0

Jalan-Jalan Ala Eat, Pray, Love di Ubud

#latepost

att_1440782355656_img20150416154049_1024

“Menikmati waktu berdua, tapi nggak kecapean karena kebanyakan jalan-jalan.” Kata Filda mengingatkan kami, dengan sedikit nada protes, teringat petualangan kami di Jogja yang melelahkan secara fisik. Of course, it is about quality time–not quantity of place.

Filda benar.

Setelah 12 hari bulan madu yang seru di Solo-Jogja, 3 hari di Ubud adalah bulan madu kami yang kedua. Mengapa Ubud? Di internet, orang bilang kalau mau bulan madu di Bali, ya, enaknya ke Ubud. Entahlah, mungkin juga petualangan Julia Roberts di Ubud (novel dan film Eat, Pray, Love) yang membuat kami terhipnotis untuk bulan madu disini.

“Ubud itu beda jauh sama Kuta. Kalau Kuta itu tempatnya party, kalau buat couple tempatnya memang di Ubud.” Kata Wayan, supir hotel yang menjemput kami di Bandara Ngurah Rai.

Dalam perjalanan menuju Ubud, kami dan Filda sudah terbayang-bayang dengan suasana khas Ubud yang dikelilingi persawahan dan dataran tinggi—seperti yang sering kami lihat di internet tempo hari. Kami tiba di Ubud saat petang dan langsung disambut dengan suasana hening dan lengang. Wayan benar, Ubud adalah tempat yang perfect buat The Couple Trip.  Continue reading

0

Penuh Pengorbanan di Pantai Ngobaran

IMG20150108114556

“Kita akan ke pantai yang huruf depannya NG.” Gunung Kidul punya belasan pantai cantik untuk dikunjungi. Mengingat keterbatasan waktu dan padatnya agenda perjalanan, kami hanya memilih beberapa di antaranya. “Kalau lihat foto-foto di internet sih, pantainya bagus, masih sepi—jarang dikunjungi turis. Biar kayak pantai pribadi.” Seloroh saya supaya Filda tertarik.

“Apa namanya, pi?” Ehm, ada yang kepo nih.

“Ngerenehan, Nguyahan dan Ngobaran. Menurut informasi di internet, letaknya berdekatan kok.” Jawab saya sok tahu. Sejak traveling bareng Filda, saya jadi punya kebiasaan browsing dulu sebelum bepergian, lalu menunjukkan foto-foto tentang tempat yang mau dituju kepada Filda supaya lebih meyakinkan—barulah saya memutuskan untuk berangkat atau nggak. Dari foto-foto tersebut, saya mendapatkan deskripsi singkat soal pantai-pantai NG-nya Gunung Kidul tersebut.

Pantai Ngerenehan adalah pantai kecil yang diapit dua bukit dengan air lautnya yang jernih. Terdapat perkampungan dan kapal-kapal nelayan yang bersandar di sekitarnya, termasuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan banyak warung yang berjualan seafood. Pantai Nguyahan sejak dulu dikenal sebagai tempat pembuatan garam sejak zaman Belanda, memiliki bibir pantai yang lebih lebar daripada Ngerenehan, tapi sama-sama memiliki air laut yang jernih dan bukit di sisinya. Pantai Ngobaran dari zaman baheula terkenal dengan cerita mistisnya dimana terdapat pura dan candi di tepi laut yang menjadi keunikannya. Banyak orang bilang pantai ini adalah Uluwatu-nya Jogja. Hmm, semuanya menarik untuk dikunjungi. Continue reading

0

Sensasi Baru Menjelajahi Goa Pindul

Kali pertama kesana, Goa Pindul masih sepi sekali–belum terkenal. Kedua kalinya, suasana cukup ramai. Kesempatan ketiga, Goa Pindul sudah seperti pasar—goanya cuma satu, yang mau masuk kesana sejuta umat. Keempat kalinya, kali ini bareng Filda, Goa Pindul lagi sepi banget. Dan entah kenapa, kami mendapat tiga pemandu sekaligus. Ahh, rezeki anak sholeh..

“Mungkin karena kita mengambil paket lengkap, ya… Goa Glatik, Goa Pindul, Kali Oyo sama nginap di homestay-nya.” Saya masih penasaran, menerka kenapa bisa tiga orang.

“Memang sebelumnya gimana?”

“Biasanya cuma satu atau dua pemandunya.” Jawab saya, berdasarkan pengalaman. “Itu pun rame-rame sama orang lain.” Nah lho, ada apa gerangan?? Continue reading

0

Candi Paling Romantis di Jogja?

#latepost

1

Dua hal yang membedakan sebuah candi dan candi lainnya adalah “unik” dan “menarik”. Unik, berarti bentuk arsitekturnya yang khas, lokasinya bagus serta view-nya keren. Sedangkan menarik, itu terkait dengan cara kita dalam menikmati candi tersebut. Dari keseluruhan candi yang ada di Jogja dan sekitarnya, saya dan Filda blusukan untuk mencari satu candi yang “paling romantis”.. dan akhirnya, we found it.

2

Continue reading

0

Kota Pelabuhan Tua Fremantle

“Bulan madu yang berkualitas seharusnya bisa dinikmati tanpa harus repot ini-itu dan terlalu menguras tenaga. Tempat wisata malah nggak lebih penting daripada banyaknya waktu berkualitas yang perlu dihabiskan berdua selama perjalanan.” –The Couple Trip

Architectour

Architec-tour: Landskap Bangunan Tua di Fremantle

Mari kita kembali ke tahun 1829. Saat itu adalah pertama kalinya koloni Swan River, Western Australia, dibuka oleh orang-orang inggris. Hei guys, coba tebak, bangunan apa yang pertama kali dibangun oleh mereka? Bukan rumah, bukan hotel. Bangunan pertama yang mereka bangun justru PENJARA, namanya The Round House. Tempat ini dirancang oleh Henry Willey Reveley pada tahun 1830. Lokasi The Round House tersebut sangat strategis, terletak di sebuah tanjung dengan tebing batu yang disebut “Arthur Head” yang bisa mengawasi muara Swan River. Posisi ini juga sangat membantu untuk navigasi kapal laut dan stasiun sinyal seiring dibukanya Pelabuhan Fremantle pada perkembangan selanjutnya. Selain penjara, tempat ini juga dibangun cottage untuk bos pelabuhan, mercusuar dan rumah pengadilan. Untuk memudahkan akses dari pelabuhan ke Kota Fremantle melalui Bathers Beach, maka dibangunlah sebuah terowongan tepat dibawah The Round House pada tahun 1837 yang dikerjakan oleh Fremantle Whaling Company. Continue reading

2

Menginap di Homestay Etnik

IMG_4143

Tahun Baru 2015

Dari luar, saya dan Filda nggak bisa membayangkan bagaimana bentuk bangunan tersebut karena terhalang oleh pagar dan temboknya yang tinggi. Sejenak kami merasa ragu apakah benar ini adalah Cakra Homestay yang kami tuju. Saya mencoba menghubungi nomor telepon penginapan tersebut berdasarkan informasi yang tertera di buku The Lonely Planet: Indonesia edisi 2007. Telepon diangkat, dan tak lama kemudian seorang bapak tua tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang.

Voila!  Continue reading

0

Menikah Tamasya

RIKI N FILDA

Di Pontianak, ada istilah “Menikah Tamasya”. Kedua pasangan menikah secara resmi, tapi tanpa resepsi pernikahan. Daripada menggelar resepsi yang mahal, mereka langsung pergi bulan madu namun tetap memberikan undangan pernikahan kepada keluarga dan kerabat. Bagi mereka yang menerima undangan tersebut pun sudah tahu bahwa nggak perlu datang resepsi. Menikah tamasya ini biasanya dilakukan oleh pasangan dari etnis Tionghoa.

Saya dan Filda sebenarnya suka dengan konsep itu, karena secara perhitungan ekonomi memang jauh lebih hemat dan langsung to the point—pergi bulan madu. Tapi, demi menghindari protes keluarga, tetangga dan teman-teman, kami menikah secara normal (dengan resepsi, tentunya) pada bulan November 2014. Continue reading