0

Kecopetan di Stasiun Bogor

#latepost

IMG20140908164902

Kolam Gunting, di depan Istana Kepresidenan, Kebun Raya Bogor

Jalan-jalan nggak selalu menyenangkan. Kadang-kadang, hari sial bisa datang tanpa diundang. Nah, yang beginian nih pemicu holiday blues atau yang kerap disebut bad mood, stres saat liburan.

Saya dan Filda rencananya mau ke Kebun Raya Bogor. Kami berangkat dari Stasiun Tanah Abang, Jakarta. Saat itu penumpang di kereta KRL sebenarnya nggak terlalu ramai. Sama sekali nggak ada feeling bakal terjadi “sesuatu”. Begitu turun dari kereta terus mau makan di KFC depan Stasiun Bogor, saya periksa isi tas dan—astaganaga!—DOMPET HILANG!!! Continue reading

0

Demi Canola, di Shire of York

 

IMG_5361Salah satu tips buat long trip adalah sharing kendaraan dengan teman. Pakai mobilnya siapa gitu dan patungan bensin rame-rame, atau sewa mobil juga bisa. Beruntungnya kami, dapat tumpangan gratis dari Mbak Yuni yang menjadi inisiator dari perjalanan ini. Harap maklum, Mbak Yuni itu anak P.hD, sudah lama tinggal di Perth dan tahu tentang musim-musimnya berwisata di Western Australia. Selain kami bertiga, ada Om Gun dan Mbak Wati yang juga ikut serta dalam perjalanan wisata kali ini.

Pagi-pagi sekali kami harus bangun lalu mandi kucing (cuci muka dan sikat gigi doang) demi pergi ke canola farm di Shire of York. Di Australia, canola dibikin jadi minyak goreng. Tapi, kami juga nggak tahu canola itu seperti apa—seumur hidup belum pernah lihat.
Continue reading

0

Bakat Terpendam

Hal yang paling mencengangkan buat saya adalah, diam-diam, Filda punya bakat menulis, meskipun yang ditulisnya itu cuma curhat-curhat melankolis. Supaya nggak dibaca orang lain (bahkan oleh saya), Filda menulisnya di aplikasi notes dalam hp, dikunci dengan password. Walaupun sudah menikah, awalnya dia enggan untuk mengungkapkan catatan tersebut. Ketika saya ingin tahu apa isinya, dia tampak malu-malu dan buru-buru menghapus catatan-catatannya supaya kami nggak sempat baca. Hanya tersisa tiga catatan terakhir yang belum dihapus—dengan malu-malu kucing—akhirnya saya diperbolehkan untuk membacanya. Catatan curhatan yang tersisa itu rupanya terkait dengan hubungan kami yang sempat long distance relationship (LDR) pasca resepsi pernikahan, saat itu saya terbang duluan ke Perth sebelum Filda menyusul kemudian. Periode itu adalah tiga bulan yang membuat kami malarindu tropikangen. Continue reading

0

Kota Pelabuhan Tua Fremantle

“Bulan madu yang berkualitas seharusnya bisa dinikmati tanpa harus repot ini-itu dan terlalu menguras tenaga. Tempat wisata malah nggak lebih penting daripada banyaknya waktu berkualitas yang perlu dihabiskan berdua selama perjalanan.” –The Couple Trip

Architectour

Architec-tour: Landskap Bangunan Tua di Fremantle

Mari kita kembali ke tahun 1829. Saat itu adalah pertama kalinya koloni Swan River, Western Australia, dibuka oleh orang-orang inggris. Hei guys, coba tebak, bangunan apa yang pertama kali dibangun oleh mereka? Bukan rumah, bukan hotel. Bangunan pertama yang mereka bangun justru PENJARA, namanya The Round House. Tempat ini dirancang oleh Henry Willey Reveley pada tahun 1830. Lokasi The Round House tersebut sangat strategis, terletak di sebuah tanjung dengan tebing batu yang disebut “Arthur Head” yang bisa mengawasi muara Swan River. Posisi ini juga sangat membantu untuk navigasi kapal laut dan stasiun sinyal seiring dibukanya Pelabuhan Fremantle pada perkembangan selanjutnya. Selain penjara, tempat ini juga dibangun cottage untuk bos pelabuhan, mercusuar dan rumah pengadilan. Untuk memudahkan akses dari pelabuhan ke Kota Fremantle melalui Bathers Beach, maka dibangunlah sebuah terowongan tepat dibawah The Round House pada tahun 1837 yang dikerjakan oleh Fremantle Whaling Company. Continue reading

1

Apresiasi dan Vlog Untuk Pengembangan The Couple Trip

“But if you never try you’ll never know”–Coldplay, Fix You

Phinemo
Baru-baru ini, blog kami numpang beken di www.phinemo.com, sebuah online travel media yang fokus kepada travel enthusiast. Bersama-sama dengan Adam dan Susan (www.pergidulu.com), Diana dan Ryan (www.duaransel.com), Jeff dan Diana (www.pasangantraveling.com) serta Jack dan Jill (www.jackandjilltravel.com), nama kami dinobatkan sebagai “5 Pasangan Traveler yang Membuat Anda Iri Ingin Punya Pasangan Traveler Juga“. Bukan cuma Phinemo lho, blog kami juga sempat nongol di The China Daily untuk artikel edisi bahasa inggris yang berjudul Coffee Street vs. Chinese FoodContinue reading

0

Berani Mandi di Cottesloe Beach Saat Musim Dingin?

#latepost

SDC16243

Cottesloe Beach adalah sebuah pantai di Perth yang memiliki warna biru tosca dan pasir putih yang lembut. Dari kejauhan, ketika sinar matahari memantulkan cahaya ke permukaan laut, kita bisa melihat sea view yang menakjubkan.

Vegetasi di bagian utara adalah bukit berpasir, masih alami dan relatif sepi. Pantai utamanya berada di wilayah selatan, didominasi oleh pepohonan tinggi yang rindang, pedestrian dari batu karang yang menjorok ke laut, burung-burung camar yang terbang kesana-kemari dan landmark bangunan adalah Indiana Cottesloe Hotel yang berdiri gagah menghadap ke laut lepas.

Berbeda dengan pantai-pantai di Indonesia, masuk ke pantai-pantai di Australia seperti Cottesloe Beach ini gratis tanpa bayar. Pantai ini suasananya jauh dari hiruk pikuk, hanya ramai saat akhir pekan dan kalau ada event tertentu. Kalau lagi sepi banget, Cottesloe Beach jadi serasa pantai pribadi. Continue reading

0

Star-gazing di Avon Valley National Park

#latepost

“We travel not to escape life, but for life not to escape us.”

thumb_IMG_0141_1024

Ide berkemah di alam terbuka sebenarnya sudah lama kami pikirkan. Namun, realisasinya baru terjadi setelah ajakan teman untuk berkemah di Avon Valley National Park. Bermodal tenda pinjaman, kami berencana tidur berdua di tenda kecil biar serasa “kamar pengantin” dan bakal melewatkan malam minggu dibawah bintang-bintang.

Avon Valley National Park dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan naik mobil dari Perth. Masuk ke taman nasional ini sebenarnya harus bayar lho, cuma pos di pintu gerbangnya memang didesain tanpa kehadiran ranger (penjaga taman nasional)—tinggallah kejujuran dan kesadaran para pengunjung untuk mengisi formulir kedatangan dan “menyelipkan” duit tiket masuk di kotak yang telah disediakan. Kami kagum dengan “self-service” tersebut sekaligus malu mengingat, bahwa jika itu ada di Indonesia, pasti banyak orang yang masuk tanpa membayar. Continue reading