0

Penuh Pengorbanan di Pantai Ngobaran

IMG20150108114556

“Kita akan ke pantai yang huruf depannya NG.” Gunung Kidul punya belasan pantai cantik untuk dikunjungi. Mengingat keterbatasan waktu dan padatnya agenda perjalanan, kami hanya memilih beberapa di antaranya. “Kalau lihat foto-foto di internet sih, pantainya bagus, masih sepi—jarang dikunjungi turis. Biar kayak pantai pribadi.” Seloroh saya supaya Filda tertarik.

“Apa namanya, pi?” Ehm, ada yang kepo nih.

“Ngerenehan, Nguyahan dan Ngobaran. Menurut informasi di internet, letaknya berdekatan kok.” Jawab saya sok tahu. Sejak traveling bareng Filda, saya jadi punya kebiasaan browsing dulu sebelum bepergian, lalu menunjukkan foto-foto tentang tempat yang mau dituju kepada Filda supaya lebih meyakinkan—barulah saya memutuskan untuk berangkat atau nggak. Dari foto-foto tersebut, saya mendapatkan deskripsi singkat soal pantai-pantai NG-nya Gunung Kidul tersebut.

Pantai Ngerenehan adalah pantai kecil yang diapit dua bukit dengan air lautnya yang jernih. Terdapat perkampungan dan kapal-kapal nelayan yang bersandar di sekitarnya, termasuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan banyak warung yang berjualan seafood. Pantai Nguyahan sejak dulu dikenal sebagai tempat pembuatan garam sejak zaman Belanda, memiliki bibir pantai yang lebih lebar daripada Ngerenehan, tapi sama-sama memiliki air laut yang jernih dan bukit di sisinya. Pantai Ngobaran dari zaman baheula terkenal dengan cerita mistisnya dimana terdapat pura dan candi di tepi laut yang menjadi keunikannya. Banyak orang bilang pantai ini adalah Uluwatu-nya Jogja. Hmm, semuanya menarik untuk dikunjungi. Continue reading

Advertisements
2

Apresiasi dan Vlog Untuk Pengembangan The Couple Trip

“But if you never try you’ll never know”–Coldplay, Fix You

Phinemo
Baru-baru ini, blog kami numpang beken di www.phinemo.com, sebuah online travel media yang fokus kepada travel enthusiast. Bersama-sama dengan Adam dan Susan (www.pergidulu.com), Diana dan Ryan (www.duaransel.com), Jeff dan Diana (www.pasangantraveling.com) serta Jack dan Jill (www.jackandjilltravel.com), nama kami dinobatkan sebagai “5 Pasangan Traveler yang Membuat Anda Iri Ingin Punya Pasangan Traveler Juga“. Bukan cuma Phinemo lho, blog kami juga sempat nongol di The China Daily untuk artikel edisi bahasa inggris yang berjudul Coffee Street vs. Chinese FoodContinue reading

2

Perjalanan ke Australia Lewat Jalur Beasiswa

IMG-20151113-WA0004

Suatu hari ibu saya bilang begini, “Kalau kamu mau merubah hidup, kamu harus sekolah setinggi-tingginya. Kita ini bukan keluarga kaya, nggak ada warisan. Jadi, kamu harus terus sekolah supaya pintar. Kalau kamu pintar, bukan kamu yang cari uang, tapi uang yang cari kamu.” Kata-kata sakti ibu saya ini terus terngiang dalam pikiran. Inilah motivasi terbesar saya dalam melanjutkan S2. Terus terang, saya berasal dari keluarga sederhana yang sempat jatuh ke titik nol. Satu-satunya jalan keluar dari masalah itu adalah meraih beasiswa ke perguruan tinggi dan berusaha membalikkan keadaan menjadi lebih baik. Tanpa beasiswa, jujur saja, saya nggak punya kesempatan kuliah saat kondisi ekonomi keluarga sedang morat-marit.

Alhamdulillah, sebelumnya saya telah mendapatkan beasiswa ikatan dinas di IPDN dan kemudian bekerja di Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Walaupun sudah jadi PNS, saya masih merasa lapar dan dahaga dengan ilmu pengetahuan. Bukannya nggak bersyukur, saya merasa perlu untuk update ilmu pengetahuan dan informasi di dunia luar. Long life learning because knowledge is power adalah prinsip hidup yang saya pegang. Merujuk kepada tingkat kepuasan vesi Maslow, saya ingin dan butuh untuk “aktualisasi diri”—saya hanya ingin sekolah lagi. Ini bukan hanya soal gelar, tapi pengalaman hidup dan akademik yang bisa mendukung kinerja di kantor dan, setidaknya, menjadi inspirasi dalam keluarga—saya kira tujuan itu cukup sederhana dan realistis. Jadi, saya menantang diri saya untuk mencari beasiswa ke luar negeri—sesuatu yang prestisius, penuh persaingan dan kompetisi, nggak cuma unjuk kemampuan dan kepintaran, tapi juga dibutuhkan sedikit hoki untuk mendapatkannya. Continue reading

0

Berguru di Perth Writer Festival

Inilah salah satu event di Perth yang saya tunggu-tunggu. Festival ini juga merupakan bagian dari Perth International Arts Festival 2015. Acaranya diselenggarakan di kampusnya University of Western Australia (UWA) selama tiga hari (20-22 February 2015).

Perth Writer Festival (PWF) adalah ajang diskusi dan promosi buku antara para penulis dan “pendengar” yang tahun ini bertemakan HAM, kemanusiaan, kreatifitas, sejarah, geografi dan masyarakat. Para penulis yang diundang mulai dari aktivis, storyteller, novelis, dari yang puitis hingga pragmatis, semuanya berbaur disini. Acara bincang-bincang santai diadakan baik di ruang kelas, tenda terbuka termasuk di bawah pohon, banyak food truck di sekitar lokasi, spot untuk piknik, ada juga book shop dan acara penandatanganan buku oleh para penulis.

WP_20150221_001

Sesi 1: Dislocated

Continue reading

1

Coffee Street vs. Chinese Food

Love through a small cup of coffee

Pontianak is capital city of West Kalimantan Province, Indonesia. It is located in Borneo island—one of the biggest island in the world. If you come and visit Pontianak, and ask Pontianak people where the best place for hang-out and culinary… the answer is “coffee street”—it is the other cool name of Gajah Mada street, which is relating to local culture of drinking coffee in Pontianak city. “The culture of coffee in Pontianak was really massive.” A friend told me about his visit to Pontianak once upon a time.

IMG20150305202741

Gajah Mada street is also venue for Chinese New Year celebration in Pontianak city

Continue reading