Jalan-Jalan Ala Eat, Pray, Love di Ubud

#latepost

att_1440782355656_img20150416154049_1024

“Menikmati waktu berdua, tapi nggak kecapean karena kebanyakan jalan-jalan.” Kata Filda mengingatkan kami, dengan sedikit nada protes, teringat petualangan kami di Jogja yang melelahkan secara fisik. Of course, it is about quality time–not quantity of place.

Filda benar.

Setelah 12 hari bulan madu yang seru di Solo-Jogja, 3 hari di Ubud adalah bulan madu kami yang kedua. Mengapa Ubud? Di internet, orang bilang kalau mau bulan madu di Bali, ya, enaknya ke Ubud. Entahlah, mungkin juga petualangan Julia Roberts di Ubud (novel dan film Eat, Pray, Love) yang membuat kami terhipnotis untuk bulan madu disini.

“Ubud itu beda jauh sama Kuta. Kalau Kuta itu tempatnya party, kalau buat couple tempatnya memang di Ubud.” Kata Wayan, supir hotel yang menjemput kami di Bandara Ngurah Rai.

Dalam perjalanan menuju Ubud, kami dan Filda sudah terbayang-bayang dengan suasana khas Ubud yang dikelilingi persawahan dan dataran tinggi—seperti yang sering kami lihat di internet tempo hari. Kami tiba di Ubud saat petang dan langsung disambut dengan suasana hening dan lengang. Wayan benar, Ubud adalah tempat yang perfect buat The Couple Trip. 

 ***

Romantis dan inspiratif—dua kata kunci yang mewakili Ubud dalam pandangan pertama. Tempat ini memang menarik dan bikin penasaran. Pergi ke Ubud, kami pun jadi teringat tari-tarian Bali.

Kami mengunjungi tourism information center yang terletak di depan Ubud Palace untuk mencari tahu. Seorang petugas menyambut kami dan memberikan buku panduan wisata Ubud, lengkap dengan peta serta jadwal pertunjukan tari di Ubud. Tari Kecak Api—kami sudah lama ingin menonton tari ini. Sering lihat di TV, tapi belum pernah lihat aslinya. Hari rabu malam itu, ada jadwal tari kecak di Pura Batu Karu, sekitar 300 meter dari tempat ini. Menonton tari kecak api langsung masuk to-do-list yang pertama.

img_4677_1024

Kalau Julia Roberts di film tersebut keliling Ubud dengan menggunakan sepeda, kami sih maunya naik sepeda motor. Gara-gara melihat bule-bule seliweran naik motor, membuat kami cemburu untuk mencoba hal yang sama. Sayangnya, sudah keluar masuk gang untuk mencari rental motor, kami malah di-ping pong sana-sini. Naasnya, semua motor habis tersewakan. Kami nggak punya pilihan selain walking tour. Tapi sebelum beraksi, cari makan dulu deh..

Soal kuliner, banyak tempat makan enak di Ubud—enak untuk dinikmati citarasanya, juga enak buat nongkrong dan cuci mata—meski nggak terjamin soal halal-haramnya (terutama bagi yang muslim). Ibu Rai Bar & Restaurant yang legendaris termasuk enak buat lunch, Tukies Cafe (spesialis es kelapa muda—buat mengganti ion-ion tubuh yang hilang karena banyak jalan kaki), Taman Curry “Taman Gallery”—sebuah galeri cafe, bisa nongkrong sambil melihat koleksi lukisan-lukisan khas Ubud, atau Tropical View Cafe—salah satu cafe di tepi sawah dengan atmosfirnya yang tropis banget.

Ubud terkenal karena jiwa seni masyarakatnya yang tinggi dan artistik. Tempat terbaik untuk memulai perjalanan untuk menikmati seni Ubud adalah Ubud Market. Pasar seni ini dijejali beragam koleksi lukisan, ukiran, kerajinan tangan, pakaian bermotif Bali, mainan tradisional dan lain-lain. Menjelajahi lorong-lorong Ubud Market mengingatkan kami pada adegan di Film Eat, Pray, Love yang mengambil tempat syuting disini.

Selanjutnya adalah sightsee menyusuri Jalan Sriwedari, Suweta, Gootama hingga Monkey Forest untuk melihat deretan toko-toko dan showroom karya seni, lukisan Ubud dan berbagai restoran dan cafe bernuansa seni yang sangat imajinatif. Kami sempat mampir ke rumah pelukis dan pematung I Gusti Wayan Lempad yang isi rumahnya penuh dengan lukisan dan patung gaya Bali. NEKA Gallery salah satu yang recommended dengan koleksi lukisannya yang bagus. The biggest ever—Ubud Palace—istana ini nggak boleh dilewatkan, karena gerbang dan puranya keren buat foto-foto. Ukiran klasiknya membuat kami berdecak kagum dengan detail-detailnya yang rumit dan bisa dinikmati secara visual. Well, kami datang ke tempat yang benar. Ubud memang nyeni banget.

img_4680_1024

Tari Kecak Api

Menjelang mahgrib, kami bergegas ke Pura Batu Karu. Aha, ternyata saya dan Filda jadi penonton pertama yang datang—saking semangatnya mau nonton. Acaranya baru mulai pukul 19.30, tapi kami sudah tiba di lokasi pukul 18.00 lewat. Beruntung sekali, kami bisa duduk di barisan paling depan. It’s a good view to see the performance. Kecuali kami, mayoritas penonton yang datang adalah bule.

Sulit sekali menggambarkan betapa magisnya pertunjukkan Tari Kecak Api dengan kata-kata. Mendengar paduan suara pengiring tariannya membuat kami merinding, seolah terdengar sakral dan penuh mistis. Gerakan-gerakan para penarinya sangat lincah dan mempesona, belum lagi tatapan mata mereka yang tajam, menusuk dan membius para penonton. Wah! Rugi deh, kalau datang ke Ubud tapi nggak melihat pertunjukan ini. Untuk ukuran tari tradisional, kerennya tiada banding.

Saya dan Filda memang nggak terlalu mengerti dengan jalan cerita pertunjukkan tari tersebut, kami hanya menikmati aksi teatrikal para penari dan simfoni nada dari para pengiringnya. Latar gerbang Pura Batu Karu-nya juga bagus. Plus, atraksi pemain kuda lumping di akhir cerita yang bermain bara api dari sabut/kulit kelapa menambah kesan mistisnya pertunjukkan itu, sampai-sampai kakek yang jadi pemain kuda lumpingnya terduduk kelelahan, seperti habis kesurupan, demi suksesnya acara tersebut. Tak lupa, sesi foto bersama dengan para penari di gerbang pura. Saya menyuruh Filda buruan maju berfoto karena harus bersaing dengan penonton lain sementara waktunya terbatas—for last minute, it works.We finally got the chance. Kami pun pulang ke penginapan dengan perasaan PUAS lalu tidur PULAS.

img_4750_1024

img_4754_1024

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s