Sensasi Baru Menjelajahi Goa Pindul

Kali pertama kesana, Goa Pindul masih sepi sekali–belum terkenal. Kedua kalinya, suasana cukup ramai. Kesempatan ketiga, Goa Pindul sudah seperti pasar—goanya cuma satu, yang mau masuk kesana sejuta umat. Keempat kalinya, kali ini bareng Filda, Goa Pindul lagi sepi banget. Dan entah kenapa, kami mendapat tiga pemandu sekaligus. Ahh, rezeki anak sholeh..

“Mungkin karena kita mengambil paket lengkap, ya… Goa Glatik, Goa Pindul, Kali Oyo sama nginap di homestay-nya.” Saya masih penasaran, menerka kenapa bisa tiga orang.

“Memang sebelumnya gimana?”

“Biasanya cuma satu atau dua pemandunya.” Jawab saya, berdasarkan pengalaman. “Itu pun rame-rame sama orang lain.” Nah lho, ada apa gerangan??

***

Goa Glatik benar-benar kering. Begitu turun, kami melihat ada bekas galian yang sengaja dibuat untuk aliran air dalam goa. Kami lalu masuk semakin dalam, bersenjatakan helm pelindung kepala, senter dan life jacket. Goa ini benar-benar gelap dan banyak jebakan batman-nya. Jika nggak hati-hati, kepala bisa terbentur bebatuan di langit-langit goa. Kami harus berjalan perlahan, merangkak hati-hati untuk memasuki lorong-lorong goa.

Puncaknya, kami harus melewati sebuah lubang yang hanya cukup untuk satu orang. Itu pun melewatinya harus sedikit menekuk tubuh. Belum lagi batu-batuan di dalam goa yang licin buat pegangan. Tapi seru! Seru sekali! Setelah lubang itu, kami berada di sebuah ruangan goa yang buntu—sarang batman. Alkisah, kata pemandunya, kelelawar-kelelawar ini adalah kelelawar pindahan dari Goa Pindul yang merasa terganggu dengan aktifitas cave tubing disana. Goa Glatik adalah rumah baru mereka—the batman cave.

Para pemandu mengajak kami untuk “mengheningkan cipta” sejenak. Senter kemudian dimatikan sehingga ruangan goa itu gelap gulita, kosong, hampa, tanpa suara suara beberapa detik. Nyali kami sempat ciut juga, mulai berpikiran aneh-aneh. Kalau pemandunya ninggalin kita, gimana cara balik ke atas, ya? Pikir saya dalam hati. Karena takut, Filda juga memegang tangan saya keras-keras. Di dalam goa yang gelap, saya merasakan “genggaman” tangannya yang penuh cinta.

Rileks, bung.. itu semua bagian dari strategi wisata caving di Goa Glatik. Secara umum, menjelajahi goa ini nggak perlu kemampuan khusus dan aman untuk wisata honeymoon—meski rada jumpalitan.

***

Di Goa Pindul, acara yang sebenarnya baru saja dimulai. Ketiga pemandu kami benar-benar berguna—masing-masing jadi tukang tarik ban pelampung, satu lagi jadi tukang cerita dan satu lagi bertugas memegangi barang-barang bawaan kami termasuk kamera, sambil memotret aksi dan petualangan kami. Ini yang disebut mantap!—full service.

Dan cerita tentang Goa Pindul masih sama seperti dulu: panjang 350 meter, kedalaman antara satu sampai belasan meter, 3 zona (terang, remang-remang dan gelap abadi) dan pengunjung diajak belajar soal stalaktit dan stalakmit, termasuk istilah-istilahnya. Misalnya, batu kolom yaitu pertemuan antara batu stalaktit dan stalakmit.

Dan juga cerita mistisnya. Goa Pindul ini rupanya masih menjadi tempat yang disakralkan oleh warga sekitar mengingat adanya jejak peninggalan spiritual di masa lampau. Misalnya, ada dua cekungan yang dulunya pernah jadi tempat bertapa orang-orang sakti pada zaman Kerajaan Mataram—kalau orang Jawa bilangnya ngelakoni. Di tengah-tengah goa, kami diajak berhenti sejenak untuk merenungi kebesaran Tuhan. Sekali lagi, lampu dan senter dimatikan dan suasana jadi gelap total. Lalu, kami disuruh berdoa dalam gelap.

Meskipun sakral, ada juga bagian yang “tampaknya” sengaja dibuat-buat pihak operator wisata buat seru-seruan. Ada batu stalaktit yang disebut “Batu Perkasa”. Nah, bagi cowok-cowok yang memegangnya akan bisa bertambah perkasa. Saya buru-buru memegangnya supaya kebagian wangsit. Kemudian ada lagi stalaktit “Batu Suci Mutiara”—bagi cewek-cewek yang terkena tetesannya bisa bertambah cantik. Tapi kalau cowok yang kena tetesannya bisa lunglay, jadi bencis. Auu, eke mah kagak mau, cin.. Giliran Filda yang memegangnya supaya dapat wangsit yang sama.

Selain itu, kata mas pemandu, kalau kami beruntung kena kencing kelelawar, itu bisa untuk menghilangkan bau badan. Memang sih, Goa Pindul ini juga sarangnya batman—si kampret (pemakan serangga) dan si kalong atau codot (pemakan buah). Kini populasinya berangsur berkurang karena goanya sudah dikuasai wisatawan dan mereka mengungsi ke goa lain di sekitar daerah situ.

Bagian klimaks di Goa Pindul berada di ujungnya, dibawah goa vertikal yang dulu pernah jadi tempat syutingnya iklan rokok. Dari ketinggian 3 meter, saya dan Filda melompat indah—free jumping!—meskipun kami nggak bisa berenang, pokoknya modal nekat deh. Mas pemandu bahkan menantang kami untuk belajar berenang.

“Cuma 5 menit, pasti sudah bisa berenang.” Katanya. “Caranya gampang.” Lalu kami disuruh lompat dari ban pelampung, disuruh mengapung dengan pelan dan tenang, kemudian belajar menggerakkan kaki seperti mengayuh sepeda mulai dari goa vertikal sampai dengan finish-nya di Banyumojo. Cuma begitu sih gampang.. tapi, ya, tetap saja kami nggak bisa berenang secara instan.

Dan informasi barunya adalah.. tepat di depan sana, ada sebuah tanggul irigasi, dan dibalik situ ada goa tersembunyi. Mas pemandu bilang, “Itu kandidat Goa Pindul 2. Jalurnya sekitar 500 meter. Setelah disurvei, di dalam sana jalurnya sempit, kalau buat lewat nggak muat. Saat ini sedang dalam masa pengerjaan dimana irigasi yang ada di ujungnya diperbesar sehingga volume air di dalam goa bisa dikurangi.” Mengenai kelanjutannya, Goa Pindul 2 masih dalam tahap penelitian lebih lanjut. Hmm.. patut ditunggu nih!

SDC15797

***

Masih berbekal ban pelampung, kami diantar naik mobil pickup ke Kali Oyo melewati perkebunan kayu putih dengan jalanannya yang off road. Kami akan mengarungi Kali Oyo sepanjang 2 km. Bagian pertama benar-benar jeram—lagi musim hujan soalnya—kemudian air sungainya mengalir dengan tenang di antara dua tebing karst. Filda berteriak-teriak seperti anak kecil saking senangnya. Saya hanya bisa meringis, karena kaki saya sempat terbentur batu sewaktu menuruni jeram tadi. Ouch!

Di air terjun kecil, kami berhenti sebentar sambil bermain di bawah pancuran air itu. Saya nggak tahu kenapa, tapi setelah menikah, saya nggak senekat dulu lagi. Bawaannya takut dan khawatir kalau Filda terpeleset di batu-batu yang licin, tenggelam karena nggak bisa berenang—eh, kenapa malah saya yang parno sekarang. Filda—dia sih malah doyan main air. Dia malah nggak mau naik di pelampungnya dan coba belajar berenang sampai akhir. Ada balkon di ketinggian sekitar 10 meter untuk melompat gaya bebas. Banyak orang di atas sana mengantri ingin melompat ke bawah. Saya sudah dua kali melompat dari balkon itu. Sekarang, saya nggak mau jadi jagoan di depan Filda. Kini saya memikirkan soal safety first, memikirkan tentang pasangan, nggak hanya diri sendiri.

Setelah melewati balkon free jumping, kami masih harus menyusuri sungai. Bagian ini enak buat relaksasi karena arusnya tenang. Kata pemandunya, waktu terbaik river tubing di Kali Oyo adalah akhir hingga awal tahun saat musim hujan sedang deras-derasnya. Ouu, kalau begitu, kami datang pada waktu yang tepat.

***

Kami sudah membayangkan kalau kegiatan di Goa Pindul akan berakhir sore hari dan untuk pulang ke Kotagede, pasti sudah kelelahan di jalan. Sedari awal, kami memang berencana menginap di homestay di Goa Pindul yang ternyata murah banget. Oleh pihak operator Goa Pindul, Kami diarahkan ke homestay milik Pak Tambiyo. Pemilik rumahnya ramah dan kamarnya besar sekali. Kami juga bisa memakai mesin cuci miliknya untuk mengeringkan baju. Bahkan, kami juga dikasih cemilan dan minuman saat mau pulang. Benar-benar keramahan yang luar biasa.

Enaknya lagi, kami bisa menikmati jalan-jalan santai saat sore dan pagi hari di seputaran Desa Bejiharjo, melihat-lihat perkebunan dan deretan perbukitan di belakangnya. Pemandangannya hijau dan udaranya masih segar. Suasana desa ini tenang dan damai membuat hati kami terasa plong. Naasnya, saat mau makan malam. Warung-warung makan disana tutup lebih awal sebelum mahgrib. Desa ini terlampau sunyi dan sepi—banget deh!—kalau malam. Kalau mau makan enak, ya, mesti ke Wonosari. Tapi jalan Bejiharjo – Wonosari banyak yang nggak memiliki lampu penerangan jalan saat malam hari. Kami jadi berpikir dua kali kalau mau kesana. Takut ada apa-apa. Hiii..

Di homestay, Filda curhat soal petualangan kami tadi pagi. Filda bilang kalau dia tadi takut banget sewaktu di dalam Goa Glatik. Paranoid begitu deh. Tapi karena ada saya—apapun yang terjadi—dia merasa aman. Filda memang termasuk manusia yang jarang bepergian (jalan-jalan keluar daerah) dalam kisah hidupnya. Jadi, perjalanan kali ini jadi pengalaman baru buat dia. Juga saat main cave tubing di Goa Pindul dan river tubing di Kali Oyo, “Ini wisata paling seru selama liburan (di Jogja). Mami suka main di air.” Katanya senang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s