Candi Paling Romantis di Jogja?

1

Dua hal yang membedakan sebuah candi dan candi lainnya adalah “unik” dan “menarik”. Unik, berarti bentuk arsitekturnya yang khas, lokasinya bagus serta view-nya keren. Sedangkan menarik, itu terkait dengan cara kita dalam menikmati candi tersebut. Dari keseluruhan candi yang ada di Jogja dan sekitarnya, saya dan Filda blusukan untuk mencari satu candi yang “paling romantis”.. dan akhirnya, we found it.

2

Candi itu.. memang nggak lebih gede daripada Candi Borobudur, nggak sebanyak dan setinggi Candi Prambanan yang terlihat megah meskipun dilihat dari luar pagar, nggak se-unik Candi Sambisari yang berdiri 6 meter dibawah permukaan tanah, nggak se-suci Candi Mendut yang masih dipakai umat Budha untuk berdoa, nggak seperti Candi Kalasan yang punya ukiran dinding yang indah. Candi itu, meskipun nggak se-populer candi-candi di atas, tapi berhasil memenangkan hati kami yang sedang kasmaran, mabuk cinta mencari romantisme di tanah Jogja. Jiahh.

Untuk menuju lokasi candi ini, motor kami harus naik ke sebuah bukit yang lerengnya agak curam. Kondisi jalannya pun nggak begitu mulus, banyak lubang menganga. Motor kami dipaksa bekerja keras untuk menanjak. Knalpot motor pun berbunyi nyaring empot-empotan—tuh motor, kalau dia bisa menjerit, pasti sudah menjerit minta ampun saking tersiksanya naik ke atas.

Di sebuah tanjakan yang benar-benar curam, motor yang kami tumpangi nggak bergerak lagi, ditambah salah tancap gas, eh, motor pun slip dan malah merosot ke bawah.

“Wkwkwkwkwk..” Giliran Filda tertawa terbahak-bahak karena motor kami nggak mampu mengangkut beban dua orang di tanjakan ekstrem itu.

“Kamu turun dulu deh. Udah mau dekat kok.” Kata kami berkilah. Filda pun berjalan ke atas lagi sedangkan kami berjuang menghidupkan motor yang sedang ngambek.

Candi ini terletak kira-kira 375 meter di atas permukan laut dan dinobatkan sebagai candi tertinggi di Jogja.

“Ini namanya Candi Ijo, kaming. Dikasih nama sesuai tempatnya, Gumuk Ijo. Gumuk artinya bukit.” Kata kami dengan nada suara mirip tour guide.

“Mami suka dengan pemandangan hijau kayak gini.” Filda tersenyum sumringah saat kami tiba di tempat parkir sambil menengok panorama nun jauh dibawah sana. “Buat hati kita tuh jadi tenang.” Lanjutnya tanpa menoleh. Wajahnya serius banget, matanya bahkan nggak berkedip, tatapannya lurus ke bawah sana. Hijau dan hijau, sepanjang mata memandang sekelilingnya.

Ternyata kami nggak sendiri. Sedari tadi Candi Ijo sudah ramai dikunjungi turis, mayoritasnya adalah anak muda.

“Ini tempat terbaik untuk menikmati sunset di Jogja.” Kata kami promosi tentang kehebatan Candi Ijo dibanding candi-candi lainnya.

Tengkyu buat H.E. Doorepasi—siapa pun engkau, londo. Tahun 1886, saat dia sedang melaku-melaku cari lahan untuk perkebunan tebu—voila!—dia malah menemukan reruntuhan Candi Ijo.  Di papan informasi dekat pintu masuk, disebutkan bahwa terkadang lokasi candi lebih penting daripada bangunannya sendiri. Hal ini didasari oleh konsep penataan ruangnya yang bersifat kosmis, dimana puncak gunung atau dataran tinggi sebagai pusat. Konon, disanalah tempat tinggal para dewata, tempat dimana sekarang kami berpijak.

Komplek Candi Ijo berdiri di atas tanah yang berundak-undak. Di bagian atas, candi-candinya lebih bagus karena sudah direnovasi secara maksimal daripada candi-candi di bagian bawah yang masih berupa reruntuhan.

Sambil menunggu datangnya sunset, kami berfoto selfie, wefie dengan gaya gila-gilaan sampai akhirnya mati gaya—berlatar Candi Ijo. Kami menelusuri ruangan-ruangan di setiap candi dan duduk di relung-relung bekas arca untuk membunuh waktu.

Candi Ijo

IMG20150106172403

Setengah jam sebelum maghrib, kami sudah mencari posisi wuenak di pinggiran undakan bagian atas—duduk manis dan menikmati panorama tingkat dewa dari sudut pandang Candi Ijo. Super sekali! Pemandangannya adalah hamparan hijau khas Jogja yang dikelilingi daerah persawahan, laut dan perbukitan di selatan dan barat, serta Gunung Merapi di utara. Romantisme di Candi Ijo adalah momen terindah kami selama bulan madu di Jogja. Kami seperti terbang ke puncak kosmos.

IMG_4408

IMG_4351

Perlahan, matahari sore merayap turun. Dari sebuah lingkaran besar menyilaukan mata, lingkaran matahari senja semakin kecil, semakin orange, lalu tenggelam malu-malu di balik Perbukitan Menoreh. Saat sunset berakhir, tanpa dikomando, acara nonton bareng sunset itu diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari para pengunjung. Wonderful! Gorgeous! Happy ending-nya kompak banget. Salut dengan antusiasme para pengunjung Candi Ijo.. #plok-plok-plok..
IMG20150106175022

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s