Kota Pelabuhan Tua Fremantle

“Bulan madu yang berkualitas seharusnya bisa dinikmati tanpa harus repot ini-itu dan terlalu menguras tenaga. Tempat wisata malah nggak lebih penting daripada banyaknya waktu berkualitas yang perlu dihabiskan berdua selama perjalanan.” –The Couple Trip

Architectour

Architec-tour: Landskap Bangunan Tua di Fremantle

Mari kita kembali ke tahun 1829. Saat itu adalah pertama kalinya koloni Swan River, Western Australia, dibuka oleh orang-orang inggris. Hei guys, coba tebak, bangunan apa yang pertama kali dibangun oleh mereka? Bukan rumah, bukan hotel. Bangunan pertama yang mereka bangun justru PENJARA, namanya The Round House. Tempat ini dirancang oleh Henry Willey Reveley pada tahun 1830. Lokasi The Round House tersebut sangat strategis, terletak di sebuah tanjung dengan tebing batu yang disebut “Arthur Head” yang bisa mengawasi muara Swan River. Posisi ini juga sangat membantu untuk navigasi kapal laut dan stasiun sinyal seiring dibukanya Pelabuhan Fremantle pada perkembangan selanjutnya. Selain penjara, tempat ini juga dibangun cottage untuk bos pelabuhan, mercusuar dan rumah pengadilan. Untuk memudahkan akses dari pelabuhan ke Kota Fremantle melalui Bathers Beach, maka dibangunlah sebuah terowongan tepat dibawah The Round House pada tahun 1837 yang dikerjakan oleh Fremantle Whaling Company.

Di dalam The Round House, terdapat instalasi stocks—alat hukuman dimana kepala dan kedua tangan dikunci dalam struktur kayu untuk kemudian tahanan tersebut diekspos ke publik—mulai dipasang disana pada tahun 1844 dan John Gavin, pemuda berusia 15 tahun, menjadi orang pertama digantung (hukuman mati) di The Round House. Para pengunjung bisa bergaya menjadi tahanan dengan tangan dan kepala dikunci dalam stocks lalu difoto. Jeprett!

Pada tahun 1850, sekitar 10.000 budak didatangkan untuk mendukung pemenuhan tenaga kerja di daerah koloni, dimana kapasitas The Round House sebagai penjara sudah nggak muat lagi. Oleh karena itu, tugas pertama para budak adalah membangun penjara baru. Selain tugas-tugas kepenjaraannya dikurangi, The Round House pada perkembangannya juga dialih fungsikan sebagai benteng pertahanan dengan penambahan instalasi meriam pada tahun 1908.

Kini, The Round House telah menjadi cagar budaya dengan beberapa museum kecil pendamping. Pada jam-jam tertentu, terdapat para volunteer yang dengan senang hati bercerita tentang sejarah The Round House. Masuknya sih sebenarnya gratis, cuma disarankan pengunjung memberikan donasi seikhlasnya. Pelabuhan di Bathers Beach kini sudah dipindahkan ke arah utara, sedangkan pantai itu sekarang jadi pantai wisata. Sebenarnya, Bathers Beach termasuk pantai kecil yang relatif sepi sehingga nyaman untuk dijelajahi berdua. Dari sinilah, titik awal the couple trip menjelajahi kota tua Fremantle.

City Tour Naik Si Kucing.. 

Dahulu kala orang Eropa pertama yang datang ke Western Australia mendarat di Albany. Kemudian, mereka membuat pemukiman di Fremantle karena letaknya di muara sungai. Kota itu kemudian berkembang dengan gedung-gedung berarsitektur indah dan unik, toko-toko fashion keren, café-café yang enak buat nongkrong, pantai-pantai yang sepi, taman-taman kota untuk piknik dan beragam festival seni kontemporer dan budaya pop. Untuk memudahkan penjejahan kota, pemerintah setempat menyediakan bis gratis (CAT / Central Area Transit) yang diberi kode warna merah dan biru. Masing-masing jalur kode melewati beberapa tourism spot yang bisa dinikmati secara gratis. Kami nggak bo’ong, memang beneran rata-rata gratis. Yuk, kita telusuri satu per satu!

Fremantle CAT Maps

Source: Transperth

J a l u r   B i r u 

Turun di Fremantle Station, please, jangan lupa foto-foto di depan gedung stasiunnya yang punya arsitektur keren. Next stop, ada Cappuccino Strip—nama keren untuk sebuah jalan yang dijejali oleh deretan café-café yang rame oleh para turis dan warga lokal yang doyan kongkow sambil ngerumpi.

Nggak jauh dari situ, Fremantle Markets menyelinap di antara bangunan-bangunan tua. Pasar ini sungguh rapi dan bersih, bolehlah kami katakan mirip Beringharjo, Jogja, dengan jualannya berupa campuran barang-barang seni, kuliner dan kebutuhan dapur. Bus stop di Fremantle Markets ini juga nggak jauh dari Old Fremantle Prison, tempat ini penjara terbesar setelah The Round House dibangun. Ada berbagai macam tur dengan pemandu mulai dari keliling penjara sampai bertualang di terowongan bawah tanah disini.

Agak ke selatan, kami mendapati South Beach dan Boat Harbour—tempat dimana yatch-yatch bersandar. Khususnya South Beach, tahun 2015 pantai tersebut menyelenggarakan festival berenang bugil yang memecahkan rekor dunia 790 orang yang sebelumnya dipegang oleh New Zealand (744 orang). Sayang sekali, bagi yang mau melihat orang-orang bugil itu berenang di pantai, kita harus membayar tiket masuk plus wajib ikutan bugil di pantai. Ahh, nggak deh. Nanti Tuhan marah.

Menjelang rute kembali ke Fremantle Station, Bis CAT dengan kode warna biru akan melewati gedung-gedung kampus Notre Dame University yang artistik, Shipwreck Galleries (di tempat ini kita bisa melihat bangkai kapal bernama Batavia dari zaman Hindia Belanda yang tenggelam di pesisir Western Australia) dan The Round House / Bathers Beach, The Esplanade Reserve (taman kota) dan tempat kulineran fish and chips yang direkomendasikan oleh The Lonely Planet edisi Western Australia seperti Cicerello’s dan Kailis.

Waktu itu kami pernah makan di Cicerello’s yang letaknya di tepi dermaga, digangguin burung camar laut yang mau merebut makanan kami. Lalu kami keluarkan tongsis buat melindungi seafood kami.. Wus! Wus! Sebenarnya seru juga foto narsis pas burung-burung camar lagi pada rame ngumpul. Jadi, setelah selesai makan, sisa makanan kami biarkan di meja makan dan kami biarkan burung-burung camar berdatangan berebut makanan. Pas mereka lagi asyik makan, kami berdua foto selfie deh. Horay, we are capturing the moment!

SDC16154

Shipwreck Galleries

SDC16128

BB

SDC16365

J a l u r   M e r a h

Sama-sama melewati Fremantle Station, CAT merah lebih mengakomodir daerah Pelabuhan Fremantle hingga ke bagian utara kota tersebut. Di ujung sekali, ada Maritime Museum, dimana kita bisa melihat bekas kapal selam AL Australia yang dipajang untuk foto-foto para pengunjung lengkap dengan torpedonya yang segede gaban. Bagian utama gedung museum ini mirip dengan Opera House di Sydney, dimana isinya seputar sejarah dan instalasi maritim yang ada di Western Australia dari tempo doeloe. Sayangnya, museum ini jadi the only one yang masuknya perlu membayar. Ya, ya, kami langsung mundur teratur. Lagian, kalau masih ada yang gratis, kenapa pula harus bayar? Ya, nggak??

Beberapa puluh meter di depan Maritime Museum, terdapat E-Shed Market yang legendaris, terletak di tepi Pelabuhan Fremantle. Pasar ini spesialis menjual berbagai souvenir. Mirisnya, souvenir-nya ala Australia, tapi buatan Cina. Design in Australia. Made in China. Lha, penjualnya banyak orang Indonesia pula. Makanya, jangan heran anda akan menemukan banyak orang Indonesia yang pergi ke sini untuk beli oleh-oleh. Secara kita ini satu bangsa satu bahasa, proses tawar-menawar agak sedikit lebih enak, takasimura sedikit bolehlah.

Geser sedikit ke Pelabuhan Fremantle, ada kapal boat/ferry buat cruising menuju Perth (sekitar 1 jam perjalanan melewati Swan River. Ini seru lho! Bisa melihat aura kehidupan di sepanjang sungai dan kalau beruntung bisa melihat lumba-lumba yang muncul ke permukaan) dan Rottnest Island (huhu :-(, pulau eksotik di Western Australia yang belum sempat kami kunjungi—next time deh). Mau yang lebih keren? Cobain naik kapal layar Leeuwin II—serasa jadi bajak laut Kapten Jack Sparrow—bertualang di pesisir Western Australia selama beberapa jam.

Beranjak ke utara, CAT merah akan berhenti tepat di Fremantle Arts Centre—salah satu leading institution dalam hal seni kontemporer. Kalau bosan dengan tema wisata yang itu-itu saja, mending ke sini deh, cari inspirasi sambil melihat instalasi seni kontemporer yang aneh-aneh dan unik, membuat kita penuh tanda tanya—apa sih yang ada di pikiran si pembuatnya? Setiap minggunya, tempat ini ramai oleh event pameran bahkan konser musik juga sering di adakan disini. Salah satu event besar yang diadakan setiap tahunnya adalah Fremantle Street Art Festival. Selama beberapa hari, Kota Fremantle dipenuhi oleh acara-acara yang sifatnya seni pertunjukan jalanan (street perfomance) seperti sirkus, komedi dan mini konser, nggak hanya di Fremantle Arts Centre, tapi juga di jalanan CBD maupun tourism spot lainnya. Ada yang gratis, ada yang bayar. Tinggal dipilih mau nonton yang mana. Kalau sudah acara begitu, wuih, ramenya luar biasa! Pokoknya dijamin hepi di Fremantle deh.

Screen Shot 2016-05-31 at 12.58.01 PM

Leewen II

FAC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s