Star-gazing di Avon Valley National Park

“We travel not to escape life, but for life not to escape us.”

thumb_IMG_0141_1024

Ide berkemah di alam terbuka sebenarnya sudah lama kami pikirkan. Namun, realisasinya baru terjadi setelah ajakan teman untuk berkemah di Avon Valley National Park. Bermodal tenda pinjaman, kami berencana tidur berdua di tenda kecil biar serasa “kamar pengantin” dan bakal melewatkan malam minggu dibawah bintang-bintang.

Avon Valley National Park dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan naik mobil dari Perth. Masuk ke taman nasional ini sebenarnya harus bayar lho, cuma pos di pintu gerbangnya memang didesain tanpa kehadiran ranger (penjaga taman nasional)—tinggallah kejujuran dan kesadaran para pengunjung untuk mengisi formulir kedatangan dan “menyelipkan” duit tiket masuk di kotak yang telah disediakan. Kami kagum dengan “self-service” tersebut sekaligus malu mengingat, bahwa jika itu ada di Indonesia, pasti banyak orang yang masuk tanpa membayar.

Dari pintu gerbang, mobil-mobil kami harus menempuh jalanan tanah yang berdebu dengan kecepatan yang rendah. Rutenya benar-benar off road, tapi sejauh perjalanan itu masih bisa diakses oleh rombongan kami yang terdiri dari 3 mobil. Taman nasional ini benar-benar masih liar, sering kali terlihat kangguru dan burung unta yang tiba-tiba nyelonong di depan mobil.

Avon Valley National Park memiliki banyak camp site—lokasi khusus yang disediakan untuk perkemahan. Sekitar setengah perjalanan, rombongan akhirnya sampai di lokasi camp site terakhir yang bernama Bald Hill. Terletak di ujung bukit berbatu, Bald Hill menyediakan posisi strategis untuk menikmati pemandangan lembah dan perbukitan di sekeliling Avon Valley. Fasilitan umum yang disediakan di camp site ini antara lain WC alam tanpa air, tempat sampah, tempat penampungan air hujan dan tungku perapian permanen berbentuk lingkaran untuk api unggun. Meski demikian, adalah kewajiban bagi para pengunjung untuk menyediakan kayu bakar dan air minum sendiri sesuai kebutuhan masing-masing.

Begitu spot untuk tenda ditentukan, tenda-tenda pun didirikan. Kecuali kami, teman-teman yang lain tidur bersama dalam beberapa tenda besar. Tenda kecil kami yang hanya muat untuk dua orang ternyata bikin jealous cewek-cewek jomblo yang ikut dalam rombongan. Apalagi, tiap kali kami bilang “sayang” untuk memanggil satu sama lain, pelukan berdua, mesra-mesraan, saling menggombal, sok romantisan.. meningkatlah kecemburuan sosial tersebut.

Menjelang sore, kami langsung menjelajahi area sekitar Bald Hill, pergi ke Batu Dinasaurus—begitu istilah Atila, teman kecil yang ikut dalam rombongan kami. Batu Dinasaurus adalah formasi batuan yang sangat besar di penghujung bukit, posisinya menghadap landskap hutang gersang khas Western Australia di bawahnya. Karena keasyikan selfie di spot tersebut, saya dan Filda malah tertinggal di belakang sementara rombongan sudah menghilang entah kemana, tapi suara-suara mereka masih terdengar. Kami pun berupaya menembus bushland, mengikuti sumber suara tersebut, meski dengan resiko kulit tercabik-cabik karena ranting semak-semak yang tajam. Berbekal pengalaman sebagai pecinta alam dulu, saya cukup yakin untuk menemukan jalan keluar di tengah kepungan bushland itu. Bagaimana pun juga, tersesat adalah bagian seru dalam perjalanan.

Tapi bagi Filda, “Tersesat, ya, tersesat. Harusnya kita lewat jalan yang tadi.” Katanya sambil mengomel, dengan sedikit nada panik.

“Santai, sayang. Papi tahu jalan. Suara mereka masih kedengaran. Mereka ada di dekat sini.” Saya mencoba meyakinkan.

Di alam liar, kita bisa melihat “sisi liar” pasangan kita yang sebenarnya. Mereka yang penakut, pemberani, sok tahu.. di alam liar, topeng kepribadian kita yang lebih jujur akan terbuka.

Ternyata, ada banyak Batu-Batu Dinasaurus yang lain. Rombongan kami bergerak ke sisi lain yang menghadap langsung ke pemandangan sunset, ditemani semilir angin sore, pemandangan lembah hijau kecokelatan dan rel kereta api TransWA dengan puluhan gerbong barangnya. Tak lupa, agenda wajib: foto-foto. Thanks berat kepada Pak Akhdian dan Heru untuk foto-fotonya. Nice best shot! Kalian membuat kami serasa prewed lagi—makin bikin jealous yang lain.

Sebelum matahari benar-benar tenggelam, kami mencari kayu bakar untuk persiapan api unggun. Di camp site ini disediakan pula tempat khusus untuk memanggang dan WC alam (cuma ada lubang WC, tisu dan tanpa air). Beginilah suasana perkemahannya: duduk melingkari api unggun, bakar bakso dan ngobrol ngalor-ngidul sampai tengah malam. Hadeh, bukannya tidur, teman-teman malah mengajak kembali lagi ke Batu Dinasaurus buat star-gazing, melihat hamparan rasi-rasi bintang malam. Untungnya, langit sedang cerah dan bulan bersinar terang. Wuih, pemandangannya luar biasa sekali. Impian star-gazing kami telah tercapai di Avon Valley.

Fakta sebenarnya, camping di Australia menjelang akhir musim semi bukanlah saat yang tepat. Kalau siang banyak lalat, kalau malam cuacanya berangin kencang dan dingin sekali. Tenda berbunyi gluduk-gluduk, serasa mau terbang–tercerabut dari tanah. Saya sampai masuk angin, menggigil dan cegukan seharian setelah pulang dari perkemahan tersebut.

IMG_6410_1024

Screen Shot 2016-05-31 at 9.30.21 AM

IMG_6453_1024

IMG_6445_1024

IMG_6473_1024

Avon Valley 2

IMG_6507_1024Avon Valley 1

Screen Shot 2016-05-31 at 9.29.56 AM

IMG_6502_1024

Screen Shot 2016-05-31 at 9.28.57 AM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s