Menginap di Homestay Etnik

IMG_4143

Tahun Baru 2015

Dari luar, saya dan Filda nggak bisa membayangkan bagaimana bentuk bangunan tersebut karena terhalang oleh pagar dan temboknya yang tinggi. Sejenak kami merasa ragu apakah benar ini adalah Cakra Homestay yang kami tuju. Saya mencoba menghubungi nomor telepon penginapan tersebut berdasarkan informasi yang tertera di buku The Lonely Planet: Indonesia edisi 2007. Telepon diangkat, dan tak lama kemudian seorang bapak tua tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang.

Voila! 

Bagian dalam homestay ini ternyata luas sekali. Lingkungannya tampak asri, banyak tanaman hijau dan sebuah pohon besar yang rindang berdiri di tengah halaman tersebut. Suasananya eco-friendly banget. Sejak pandangan pertama, kami pikir menginap di hotel ini bakal seperti di rumah sendiri. Dan memang begitu kenyataannya—homey.

Bangunan homestay ini cukup besar, terpisah-pisah dan memanjang ke belakang. Rumah pemiliknya berada di sisi kanan, sedangkan sisanya dikhususkan untuk penginapan. Di bagian tengah, terdapat lobi untuk para tamu yang serupa dengan ruang keluarga. Di sebelahnya, ada tangga menuju ke atas—sebuah menara yang berbentuk pendopo yang terletak di lantai tiga. Di setiap lantai menuju ke puncak, ruangan-ruangannya diisi oleh properti adat Jawa. Dari atas, kami bisa melihat pemandangan lika-liku gang dan rumah-rumah tua di sekitar. Kolam renang berukuran kecil dan sebuah pendopo lain yang berisi patung dewa-dewi terdapat di bagian belakang penginapan ini. Ada pula ruang khusus gamelan yang terletak dibalik meja resepsionis, dimana latihan gamelan rutin dilakukan oleh warga setempat tiap hari selasa. Furnitur seperti meja dan kursi di depan kamar tamu, serta desain interiornya juga bergaya Jawa banget. Menurut sejarah, Cakra Homestay dulunya adalah bekas pabrik batik. Tak heran, nuansa klasik Jawa menjadi identitas etnik tempat ini. Keunikan lainnya adalah lokasi homestay yang termasuk dalam wilayah Kampung Batik Kauman, dimana akses menuju Keraton Solo dan Pasar Klewer juga dekat dalam jangkauan kaki.

Harga kamar yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Kamar AC dihargai Rp.250.000,- sedangkan kamar dengan kipas angin dibanderol Rp.200.000,- Sayang sekali, saat kami datang, kamar AC-nya sudah full-booked. Nasib deh pengantin baru. Sudah pergi ke Solo pakai kereta ekonomi, tidurnya pun di kamar ekonomi. Beruntungnya, kami dapat kamar yang dekat dengan kolam renang, jadi serasa punya kolam renang pribadi. Cihuy!

Bulan madu di Solo menjadi awal perjalanan kami yang paling “singkat, padat dan jelas”—singkat (karena cuma sehari semalam doang), padat (banyak tempat yang dikunjungi dalam tempo yang sesingkat-singkat e.g. Kampung Batik Kauman, Keraton Solo, Galabo dan Pasar Antik Triwindu), jelas—jelas berkesan banget! Anyway, penginapan yang bagus ternyata dapat menimbulkan mood yang bagus bagi pasangan yang berbulan madu.

Saat kami memajang foto-foto homestay ini di instagram (@filda_ahmadi), banyak teman yang penasaran tentang penginapan tersebut. Mereka mengira tempat itu adalah penginapan yang mahal karena kolam renang dan propertinya yang etnik. Padahal.. tempat ini murah meriah, tapi sungguh berkesan di hati.

Solo 3

 

Advertisements

2 thoughts on “Menginap di Homestay Etnik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s