Be Locals, Guys!

Sebuah saran terbaik dalam traveling adalah menjadi orang lokal, melakukan apa yang mereka lakukan pada umumnya, meniru gaya hidup mereka untuk mencoba perspektif baru–selama itu nggak meracuni prinsip hidup dan ajaran tertentu yang kita anut–ah, nggak ada salahnya juga.

Screen Shot 2016-05-31 at 10.25.04 AM

Di Perth, bersepeda dan piknik adalah gaya hidup yang populer dan disukai kebanyakan orang disini. Perth adalah salah satu kota yang memiliki jalur sepeda terbaik di dunia. Bahkan, pemerintah setempat mendukung hal tersebut dengan mengeluarkan kebijakan berupa “Western Australian Bicycle Network Plan 2014-2031“. Rumah-rumah di Perth umumnya memiliki halaman yang luas, dimana garis sepadan bangunan (GSB) yang cukup lebar tersebut dimanfaatkan untuk membuat jalur sepeda dan pedestrian yang saling berhubungan.

Screen Shot 2016-05-31 at 10.23.58 AM

Meskipun jalurnya sudah dibuat, pengemudi sepeda wajib memakai helm dan menyalakan lampu penerangan di malam hari untuk keamanan. Pernah terjadi pada suatu hari, saya dan Filda pergi ke supermarket terdekat naik sepeda berboncengan dan kami nggak pakai helm. Tiba-tiba, sebuah sedan mewah berhenti mendadak di depan kami dan membuka kaca jendelanya. Orang itu bilang, “Disini nggak boleh boncengan seperti itu (saya yang membawa sepeda, Filda duduk menyamping di depan, bertengger di rangka sepeda), nanti kalau ada polisi melihat, kalian bisa kena denda.” Waduh, malunya kami ditegur orang asing. Di Australia, nggak seperti di Indonesia–goncengan gaya apa pun boleh. Disini, haram hukumnya.

Disarankan pula untuk membeli gembok sepeda  karena disini terjadi banyak kasus pencurian sepeda. Saya adalah salah satu korbannya. Meskipun bukan sepedanya yang hilang, tapi alas sedel sepeda dan lampu kerlap-kerlip saya lenyap di gondol maling. Nggak cuma itu, gemboknya pun nyaris digorok oleh sang maling–mungkin karena nggak putus-putus, akhirnya dibiarkan. Alhasil, sepeda pun nggak berhasil dicuri. Seorang teman bahkan lebih sial lagi: tiga sepedanya hilang dalam tempo beberapa bulan.

Bersepeda jarak pendek, bagi kami, adalah alternatif jalan-jalan kalau sedang nggak traveling jarak jauh atau sedang bosan di rumah. Bersepeda adalah cara kami untuk menguras keringat, sambil mengeksploitasi daerah sekitar. Favorit kami adalah bike trip ke Canning River (sungai lain di Perth selain Swan River, tapi lebih kecil). Rute bersepeda dari Lord Street ke Canning River adalah rute “diet” demi membakar kalori dan lemak di tubuh kami. Pun, jarak tempuhnya sekitar 15 menit dengan jalur yang relatif landai.

Canning River memiliki beberapa taman seperti Centenary Park (taman ini digunakan sebagai sport field), Fern Park Playground (sebuah taman kecil di tepi sungai yang dilengkapi dengan café dan playground, pepohonan yang rimbun, bangku-bangku santai, toilet umum dan tempat barbeque) dan Riverton Bridge Park. Untuk diketahui, Kota Perth memang memiliki banyak taman terbuka bahkan hingga ke daerah suburbia. Taman-taman tersebut adalah elemen penting dalam tata kota mereka.

Tiap kali mengunjungi Canning River, kami kerap berpindah dari satu taman ke taman yang lain. Begitu sebuah lokasi yang rindang sudah ditentukan, kami pun duduk di rerumputan sambil membuka bekal makanan dan minuman yang kami bawa dari rumah, sambil memandangi suasana sungai yang tenang, menghabiskan waktu berdua–relaksasi–melihat orang-orang pergi memancing, anak-anak kecil yang bermain kayak, melihat fauna di sekitar–angsa hitam yang menawan, burung camar yang berisik minta jatah makanan, ubur-ubur yang berenang senyap, dan melihat lumba-lumba yang tersesat di sungai.

Screen Shot 2016-05-31 at 10.24.43 AM

Screen Shot 2016-05-31 at 10.23.37 AM

Binatang-binatang liar disini hidup bebas tanpa terganggu. Burung-burung misalnya, mereka nggak boleh diberi makanan secara sengaja, kalau ketahuan bisa denda lho. Orang-orang yang sudah lama tinggal disini pun kerap memperingatkan para pendatang baru mengenai hal tersebut–intinya, saling mengingatkan untuk kelestarian ekosistem lingkungan.

Usut punya usut, jika binatang-binatang tersebut sering diberi makanan, mereka malah menjadi nggak liar sebagaimana nalurinya, dan hanya menunggu makanan datang dari orang-orang. Tradisi dan budaya berwisata orang Australia itu tentunya sangat baik dalam mendukung sustainable tourism–sisi positif yang perlu kita contoh di Indonesia.

SDC16148

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s