Menulis Travel Story

10660315_10153623954007427_3731347650199047244_n

“Dengan menulis travel story, kami menjadikan traveling sebagai liburan yang produktif” –R & F

Suatu malam saya berbincang-bincang hangat dengan Filda sebelum tidur. Saya bertanya bagaimana pendapatnya tentang draft buku yang berisi catatan perjalanan kami. Untuk diketahui, Filda ini sebenarnya nggak terlalu doyan baca buku, maka saya menyebutnya “pembaca yang masih perawan” soal dunia baca buku. Di sisi lain, dia adalah pembaca pertama draft buku tersebut, dimana isi ceritanya juga ada sangkut pautnya dengan istri saya yang cantik itu. Barangkali, disitulah letak keterkaitannya.

Nah, menurut dia, draft buku saya bagus. Bahasanya nggak terlalu formal, jadi gampang dipahami. Alur ceritanya menyangkut kehidupan sehari-hari, tapi mudah diikuti oleh pembaca karena isinya tentang jalan-jalan. Traveling, culinary, having fun–sesuai tagline perjalanan kami.

Dia bilang lagi, “Buku ini tentang papi, perjalanan papi, istri papi, tapi juga ada info lainnya yang menarik perhatian. Ada sejarah dan informasinya juga. Jadi, membacanya juga nggak membosankan.”

Ya, selain dari catatan perjalanan, saya juga mengutip beberapa sumber ilmiah dari koran, internet, brosur pariwisata dimana saya bermaksud menceritakan kisah perjalanan kami secara “place to place”, dibagi lagi menjadi beberapa segmentasi seperti tempat wisata, festival budaya atau kuliner, dengan nuansa historis karena saya menyukai sejarah dan geografi. Cerita-cerita yang saya tulis umumnya juga menyangkut soal romantisme dan psikologi dalam traveling. Nah, inilah yang membuat the couple trip berbeda dari cerita traveling sejenis.

Jadi, yang membedakan tugas kami dalam proyek buku tersebut di kemudian hari adalah, saya tugasnya menulis cerita, Filda bagian dokumentasi dan upload ke media sosial. Dia sama sekali nggak bisa menulis, tapi kehadirannya jadi sumber inspirasi saya buat menulis. Kadang, saya pun suka meminta pendapatnya tentang struktur dan konten cerita, dia pun memberikan pendapatnya—tanpa pernah baca detail ceritanya seperti apa. Tapi, saya selalu punya insting, dia bakal jadi tandem perjalanan yang paling menarik. Dan memang benar, doi memang teman perjalanan yang nggak rewel.

Dia kemudian memberi saya beberapa saran penting agar tulisan saya dapat dinikmati tanpa ada unsur yang membosankan

“Tulislah cerita yang menarik, sayang.”

“Buat ceritanya yang bikin penasaran orang, sayang.”

“Nggak membosankan kalau dibaca.”

“Nggak capek bacanya. Tulisan papi tuh kadang kepanjangan, jadi mami bacanya melompat-lompat.”

“Ambil yang penting-penting aja, nggak usah semua harus ditulis. Buang yang nggak penting.”

“Jangan terlalu detil. Ini kan bukan berita. Ini cerita.”

“Sayang, coba tulis tentang 9 tips agar perjalanan murah dan menyenangkan. Kalau 10 kan sudah biasa, kamu tulis 9 aja.” Katanya dengan maksud memberikan nuansa yang berbeda alias keluar dari pakem penulisan selama ini, “Tips perjalanan murah, menyenangkan, tapi kelihatan mewah.” lanjutnya seraya memberi contoh.

“Mami suka ngepoin instagram orang. Kenapa sih, punya mereka banyak yang komen, banyak di-share. Rupanya, mereka itu pemberi informasi. Sewaktu mami pasang foto-foto perjalanan kita di medsos, banyak teman yang tanya kita lagi menginap dimana (waktu kita lagi di Solo), mereka bilang penginapan kita pasti mahal—padahal murah. Mereka membayangkan perjalanan kita pasti tiketnya mahal—padahal nggak, soalnya papi kan pintar cari tiket murah. Ya, cerita yang papi tulis harusnya memberikan informasi kayak gitu: merencanakan perjalanan, berburu tiket murah, berburu tiket masuk tempat wisata yang murah (kayak kita di Sydney kemarin). Ya, pokoknya, ceritanya tentang informasi, tips, trik dan strategi perjalanan bersama pasangan.” Kata Filda, menekankan kalimat terakhir. “Ya, prinsipnya, kalau mau jalan-jalan, kapan lagi kalau bukan sekarang. Kalau sudah tua nanti, kita belum tentu bisa jalan-jalan begini lagi.”

Weleh, weleh. Dia kok kayaknya lebih jago nulis daripada saya. Hmm..

“Oke. Papi ngerti apa yang mami maksud. Jadi, cerita yang papi tulis ini harusnya tentang “how to”, maksudnya, panduan perjalanan ala the couple trip. Iya sih, papi rasa juga begitu lebih cocok dengan gaya penulisan papi. Soalnya, kalau murni cerita perjalanan yang ditulis, rasanya ada yang kurang. Kurang pengalaman. Soalnya, ya, pengalaman perjalanan kita kan masih sedikit.” Kata saya jujur, mengakui kelemahan dalam konten cerita perjalanan yang sedang ditulis.

“Makanya nulisnya yang ringan-ringan aja, ya, jangan yang serius-serius, nanti kepala cepat pening kalau terlalu serius.”

“Aye, aye.. kapten.”

 

Sejak pembicaraan malam itu, saya mulai fokus menulis travel story yang berisi panduan perjalanan, menulis hal-hal ringan dan menarik dari perjalanan kami yang mungkin menarik bagi para pembaca, sehingga, setelah selesai membaca mereka akan termotivasi untuk jalan-jalan bersama pasangan—bukan jalan-jalan sendiri. Sudah saatnya memang, kita harus mengubah persepsi dari “solo traveling” menjadi “the couple trip”. Yakinlah, pengalaman perjalanan berdua jauh lebih membahagiakan daripada ber-jomblo-ria. Ya, itulah visi misi kami dalam menyebarkan virus the couple trip kepada khalayak ramai.
.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s