Perjalanan ke Australia Lewat Jalur Beasiswa

IMG-20151113-WA0004

Suatu hari ibu saya bilang begini, “Kalau kamu mau merubah hidup, kamu harus sekolah setinggi-tingginya. Kita ini bukan keluarga kaya, nggak ada warisan. Jadi, kamu harus terus sekolah supaya pintar. Kalau kamu pintar, bukan kamu yang cari uang, tapi uang yang cari kamu.” Kata-kata sakti ibu saya ini terus terngiang dalam pikiran. Inilah motivasi terbesar saya dalam melanjutkan S2. Terus terang, saya berasal dari keluarga sederhana yang sempat jatuh ke titik nol. Satu-satunya jalan keluar dari masalah itu adalah meraih beasiswa ke perguruan tinggi dan berusaha membalikkan keadaan menjadi lebih baik. Tanpa beasiswa, jujur saja, saya nggak punya kesempatan kuliah saat kondisi ekonomi keluarga sedang morat-marit.

Alhamdulillah, sebelumnya saya telah mendapatkan beasiswa ikatan dinas di IPDN dan kemudian bekerja di Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Walaupun sudah jadi PNS, saya masih merasa lapar dan dahaga dengan ilmu pengetahuan. Bukannya nggak bersyukur, saya merasa perlu untuk update ilmu pengetahuan dan informasi di dunia luar. Long life learning because knowledge is power adalah prinsip hidup yang saya pegang. Merujuk kepada tingkat kepuasan vesi Maslow, saya ingin dan butuh untuk “aktualisasi diri”—saya hanya ingin sekolah lagi. Ini bukan hanya soal gelar, tapi pengalaman hidup dan akademik yang bisa mendukung kinerja di kantor dan, setidaknya, menjadi inspirasi dalam keluarga—saya kira tujuan itu cukup sederhana dan realistis. Jadi, saya menantang diri saya untuk mencari beasiswa ke luar negeri—sesuatu yang prestisius, penuh persaingan dan kompetisi, nggak cuma unjuk kemampuan dan kepintaran, tapi juga dibutuhkan sedikit hoki untuk mendapatkannya.

Langkah pertama adalah, kembali belajar bahasa inggris. Tahun 2009, kemampuan bahasa inggris saya NOL BESAR. Saya mulai kursus di Family English Course di Cikuda, Sumedang dan melanjutkan lagi di beberapa tempat les bahasa inggris di Pontianak seperti LIA, Briton, UPT Bahasa Universitas Tanjungpura, e-Colink termasuk les privat.. semuanya saya coba dan hasilnya, bahasa inggris saya nggak ada kemajuan alias jalan di tempat. Antara 2009 – 2013, saya lebih dari 30 kali gagal meraih skor TOEFL ITP di atas 500, artinya, nilai saya jauh dibawah standar persyaratan beasiswa ke luar negeri manapun. Naas, memang.

Dengan kemampuan pas-pasan, saya memberanikan diri melamar beasiswa. Percobaan pertama, saya mengirimkan aplikasi beasiswa USAID Prestasi ke Amerika karena cuma minta skor TOEFL ITP 450 dan langsung gagal dalam proses administrasi—damn it! Kedua kalinya, saya melamar ALAF Fellowships ke Australia dan gagal dalam seleksi online interviewf**k! Ketiga kalinya, saya juga gagal mendapatkan beasiswa Pusbindiklatren Bappenas setelah nggak lulus tes TPA Bappenas—shit!

Setelah gagal berkali-kali, saya sempat frustasi dan depresi. Banyak teman-teman di kantor mengolok-olok saya untuk berhenti, “Jangan berharap terlalu tinggi!” Kata mereka, berusaha melunturkan semangat saya.

Saya berkata dalam hati, “Saya nggak mau menyerah! Sudah melangkah sejauh ini, kalau saya mundur, semua usaha ini nggak ada artinya.” Jadi, saya pantang mundur karena berpikir segala pengorbanan waktu, tenaga dan biaya yang telah dikeluarkan nggak boleh disia-siakan. Untungnya, saya punya ibu yang selalu mendukung. Ibu yang selalu memberikan saya semangat untuk “Jangan menyerah! Kejar terus! Kamu pasti bisa!” yang membuat saya tetap bertahan dari badai. Berkat doa ibu, saya melanjutkan perjuangan mencari beasiswa ke luar negeri.

Kesempatan kedua datang. Saya mendaftar lagi beasiswa Pusbindiklatren Bappenas untuk program S2 luar negeri. Alhamdulillah.. saya akhirnya lulus. Bah, tapi jangan senang dulu.. rupanya pihak Bappenas cuma memberikan pelatihan bahasa inggris selama 5.5 bulan untuk meraih nilai TOEFL atau IELTS yang dipersyaratkan beasiswa ke luar negeri. Setelah itu, mereka akan membantu proses seleksi mendapatkan beasiswa luar negeri yang memiliki kerja sama dengan pihak Bappenas seperti Australia dan Belanda.

Celakanya, eh, saat saya menerima surat panggilan dari mereka, di situ diterangkan bahwa pelatihan bahasa inggrisnya dipadatkan jadi 3.5 bulan—walah!—kok nggak 5,5 bulan seperti surat pemberitahuan awal.

Saya sempat curiga, berpikiran yang aneh-aneh soal waktu kursus yang “disunat” oleh Pusbindiklatren Bappenas [Eits, ini Asas Praduga Tak Bersalah lho]. Di sisi lain, saya kebakaran jenggot, malah nggak yakin apakah dalam jangka waktu sependek itu bisa mendapatkan nilai TOEFL dan IELTS yang setinggi-tingginya.

Saya memikirkan ulang seluruh rencana dan menjadi lebih realistis soal masa depan. Akhirnya, saya mengundurkan diri dari program tersebut dan ganti program baru ke double degree—kebetulan pada saat itu, pihak Bappenas membuka program baru MPKD UGM – Curtin University, Australia. Untungnya, pihak Bappenas memperbolehkan dengan syarat saya harus mendaftar ulang tapi tanpa ikut tes. Sampai setahun ke depan menunggu pengumuman, saya masuk daftar “waiting list”. Dalam hati, saya agak shock—setengah hati, mengambil pilihan tersebut karena maunya—kalau bisa—mengambil kuliah yang full dua tahun di Australia. Tapi, setelah memikirkan kegagalan bertubi-tubi dan cuma peluang ini yang tersisa—dan nilainya mencukupi, saya dengan mantap mengambil program double degree tersebut.

Setahun berlalu, saat pengumuman untuk periode berikutnya keluar, alangkah terkejut dan paniknya saya karena nama saya nggak ada dalam shortlist penerima beasiswa Pusbindiklatren Bappenas. Stres, frustasi, kecewa lagi melihat hasil pengumuman nggak sesuai harapan setahun yang lalu. Saya telepon beberapa staf dan pejabat terkait di Pusbindiklatren Bappenas untuk klarifikasi. Ada yang bilang pengumuman itu sudah final. Ada yang bilang orang yang mengurusnya sudah dimutasi jabatannya ke tempat lain dan bilang beasiswa itu bukan urusannya lagi. Yang saya dapat, justru telepon tiba-tiba dari Universitas Hasanuddin (UNHAS) beberapa minggu kemudian.

“Bapak Riki, bapak mau tidak sekolah di UNHAS?” Kata suara perempuan di telepon dengan logat Makassar-nya.

“Maaf. Tapi saya kemarin apply beasiswanya bukan ke UNHAS. Saya mau sekolah ke luar negeri.”

“Ini kemaren ada Pak Hari (pejabat Bappenas) datang ke kami, bawa berkas. Katanya ada 200 yang lulus beasiswa tapi belum ditempatkan. Jadi kami yang disuruh menawarkan.”

“Wah, kayaknya nggak deh, bu.”

Saya paham masalahnya. Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas punya kuota sekian tapi yang lulus beasiswa melebihi kapasitasnya. Baru dikemudian hari saya tahu kalau Bappenas menerapkan sistem waiting list dan black list—istilah dari beberapa teman. Waiting list dipakai kalau para peserta yang lulus beasiswa membludak di satu jurusan yang sama, maka akan ada yang menunggu sampai nama-nama peserta yang sudah dipanggil tersebut ada yang mengundurkan diri. Black list itu buat yang mengundurkan diri dengan alasan apapun seperti saya tempo hari, bahkan ada yang bilang efeknya bisa sampai ke daerah asal dimana jatah beasiswa untuk daerah tersebut dikurangi karena dianggap menyia-nyiakan kesempatan. Namun, hal tersebut perlu diklarifikasi lebih lanjut.

Bos saya di bidang informasi BKD, Ibu Kurniasari, kemudian menyuruh saya untuk mendatangi Pusbindiklatren Bappenas secara langsung, untuk menanyakan kejelasan status saya. Maka pergilah saya ke Menteng dimana kantor mereka berada. Eh, entah kebetulan atau nggak, saat sudah didekat kantor mereka, salah satu staf mereka menelepon saya dan mengatakan bahwa salah satu peserta dari program double degree UGM – ITC Belanda jurusan Geo Informasi mengundurkan diri. Awalnya tawaran tersebut saya terima, tapi saya batalkan dalam sekejab setelah saya berkonsultasi dengan Filda (sekarang istri saya, waktu itu masih pacaran) karena sekolah ke Belanda nggak boleh bawa keluarga dan kuliah di ITC-nya pun cuma tiga bulan, alias nanggung banget. Ogah deh.

Saya pun bernegoisasi dengan staf yang menelepon tadi tentang kemungkinan untuk menunggu kalau ada peserta double degree Australia yang mengundurkan diri. Dia pun nggak bisa memastikan. Setelah negoisasi yang nggak jelas hasil akhirnya, saya pun pulang dari Menteng dan singgah sejenak di Masjid Sunda Kepala dekat situ dan merenung sejenak tentang rencana hidup ke depan. Saya ingat sekali, hari itu adalah jum’at kelabu.

Tuhan Maha Besar! Hari seninnya keajaiban datang. Staf Pusbindiklatren Bappenas tersebut menelepon lagi mengabarkan bahwa ada satu orang dari peserta double degree Australia yang mengundurkan diri dan menawarkan saya untuk mengambil kursinya. Tanpa banyak kata, langsung saya jawab, “Iya”. Seminggu kemudian, saya langsung terbang ke Jogja untuk mengikuti EAP di Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) UGM untuk program tersebut yang sudah berjalan sebulan. Ya, saya seperti pemain pengganti di injury time. Mengutip sebuah istilah dalam sepakbola, saya adalah “supersub”, artinya, pemain pengganti yang hoki bisa mencetak gol penentu. Boleh dibilang, ini adalah awal dari semua keajaiban yang diberikan Tuhan setelah bertahun-tahun gigih berusaha.

Tiga bulan di PPB UGM, masalah baru muncul lagi. Umumnya, persyaratan beasiswa Australia Award Scholarships (AAS) mensyaratkan minimum nilai TOEFL 500 untuk seleksi sedangkan nilai saya masih dibawah itu dan waktu pendaftaran tinggal sebulan lagi. Alamak! Saya pun harus mengambil tes TOEFL sendiri karena pihak Bappenas hanya membiayai untuk tes IELTS yang diadakan beberapa hari sebelum pendaftaran beasiswa tersebut ditutup—astaganaga! Percobaan pertama, nilai saya 497—miris banget! Cuma kurang 3 poin lagi. Percobaan kedua, nilainya—entah kenapa—sama persis 497—naas, naas banget, cuma kurang 3 poin lagi. Barulah yang ketiga, dengan usaha yang keras—buku latihan TOEFL 600 halaman dibantai dalam 2 hari—dengan segala cara—nilai saya naik menjadi 510—lumayan. Nilai itulah yang saya lampirkan ke dalam persyaratan beasiswa.

Nah, karena AAS dan Bappenas punya kerja sama terkait beasiswa tersebut, kami diberikan kelonggaran waktu mengumpulkan nilai bahasa inggris (boleh TOEFL dan IELTS), mengingat, pada waktu itu ada beberapa teman selain saya yang nilainya juga belum mencapai 500, jadi, saya nggak merasa sendirian dan punya teman seperjuangan. Perlu diketahui, meskipun judulnya “kerja sama”, bukan berarti kami bakal aman dan lolos begitu saja. Persyaratan dan tahapan yang kami lalui sama dengan pendaftaran reguler dan nggak ada jaminan lulus.

Dan IELTS, tes diakhir kursus tersebut jadi yang pertama buat saya. Luar biasa! Pada kesempatan tes IELTS pertama tersebut, nilai saya langsung dapat 6—lumayan, untuk tahap awal. Nilai tersebut pun saya lampirkan ke dalam persyaratan beasiswa AAS tersebut. Jadi, saya punya 2 nilai yang mencukupi untuk lolos administrasi. Thanks God! Aplikasi AAS yang beberapa kali mengalami perubahan itu akhirnya berhak lolos ke babak selanjutnya. Saya benar-benar lolos untuk sesi interview—hore!

Saat interview, saya diwawancarai oleh dua orang—satu orang Indonesia, satu orang Australia—satu laki-laki, satu perempuan—yang laki-laki namanya Pak Ikrar Nusa Bakti (Beliau Profesor dari LIPI, pengamat politik yang sering muncul di TV dan juga lulusan dari Australia) dan yang cewek bule namanya Rose Marry (kalau nggak salah), seorang peneliti dari Flinders University. Kebetulan saya dapat giliran terakhir, pas banget interviewer mungkin sudah capek dan waktunya penghabisan. Justru sebaliknya, wawancaranya semakin menggila dan saya benar-benar dihabisi.

Pak Ikrar terus-terusan mengejar saya dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menantang dan mengobrak-abrik isi formulir beasiswa saya meminta konfirmasi ini-itu. Baru 2 pertanyaan awal, saya pun terserang panic attack. Keringat mulai bercucuran. “Habislah! Habislah sudah!!” Kata saya dalam hati.

I think, human resource is foundation for development.”

YES, I KNOW THAT!!!” Ujar Pak Ikrar keras-keras sambil membanting berkas saya di meja (momen ini selalu saya ingat sampai sekarang). Saya pun makin ciut dibuatnya dan terbakar emosi.

“Nah, kamu sekarang buktikan kepada saya bahwa kamu layak mendapatkan beasiswa ini.” Katanya kemudian dalam bahasa inggris.

Karena sudah panik, ya, saya pun akhirnya berbicara panjang lebar seperti yang sudah saya persiapkan sebelumnya, kenapa harus begini dan begitu, saya mau begini dan begitu. Menurut saya itu bukan interview (sebagaimana interview pada umumnya) karena suara saya dan Pak Ikrar sama-sama keras dan nggak mau kalah. Dia jual, saya beli. Saya jual, dia hantam. Rasanya seperti debat kusir yang nggak ada habisnya.

Pas giliran Rose Marry, dia lebih text book dalam memberikan pertanyaan, meskipun yang ditanyakan panjangnya bukan main, tapi saya bisa mengerti dan menduga maksudnya. Setelah pertanyaan pertama, begitu dia ngomong lagi dan tahu maksudnya, saya langsung menjawabnya dengan cepat dan kalap karena memang sudah panik. Dari gesture-nya, saya tahu kalau Rose Marry banyak setuju dengan jawaban-jawaban saya. Akhirnya, final day itu selesai dan saya pulang ke kos langsung demam seharian dan terbayang-bayang aksi Pak Ikrar membanting berkas saya di meja. “Habislah sudah!!”

Tuhan ternyata berkehendak lain.

Nggak disangka, beberapa bulan kemudian saat pengumuman tiba, nama saya masuk short list. Yeah, akhirnya, saya lulus beasiswa Australia Award Scholarships yang dari dulu saya idam-idamkan. Tanpa bermaksud mengecilkan peran beasiswa Pusbindiklatren Bappenas di MPKD UGM, saya rasa nggak mungkin bisa ke Australia tanpa lewat Pusbindiklatren Bappenas dan MPKD UGM. Sekarang saya mengerti maksud Tuhan melakukan semua ini: saya nggak dapat beasiswa AAS reguler yang langsung terbang ke Australia, tapi saya harus mendaki “jalan yang memutar” lewat program double degree, barulah terbang ke Australia.

Saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk IALF Jakarta yang telah membantu meningkatkan performa bahasa inggris secara luar biasa. Ibaratnya, 90 persen beasiswa itu sudah di tangan, sisanya 10 persen adalah nilai IELTS sesuai yang dipersyaratkan universitas yang menjadi tujuan studi. IELTS—momok menakutkan buat yang mau kuliah di Australia, ternyata berhasil saya dapatkan setelah 4,5 bulan berguru di IALF. Setelah 2 kali mendapatkan nilai IELTS 6, saya akhirnya dapat nilai 7 di akhir kursus di IALF. Asal tahu saja, banyak penerima beasiswa AAS yang nggak lulus IELTS saat tes penentuan (pihak AAS cuma bayarin satu kali kesempatan untuk tes IELTS) dan banyak di antara mereka yang beasiswanya pending gara-gara IELTS-nya belum mencapai target.

6 tahun berlalu sejak 2009 saya mulai lagi kursus bahasa inggris, kini saya sudah berada di Australia. Setelah panjangnya perjalanan, kini saya menikmati mimpi “sophomore” di Curtin University, Perth. Kini, saya menikmati mimpi bulan madu di Australia bersama istri saya, jalan-jalan ke berbagai tempat menarik dan inspiratif di Negeri Kangguru tersebut. Kini, Australia telah menjadi rumah kedua buat saya dan mendapat tempat yang spesial di hati saya.

***

Beasiswa—apapun namanya, darimana pun asalnya, it’s not for free.

Ada harga dan usaha yang harus dibayar: jutaan Rupiah melayang untuk kursus bahasa inggris dan tes ini-itu, tenaga dan pikiran yang terkuras, banyak waktu yang terbuang, sebagian besar untuk menunggu—menunggu yang nggak pasti. Dan setelah lulus, sang pemburu beasiswa kemudian diburu oleh sederetan tantangan yang tak terduga (cultural shock, perbedaan sistem, proses adaptasi) termasuk pekerjaan rumah untuk assignments dan exams. Ternyata, mimpi itu pun harus dibayar lagi dengan kesabaran dan pengorbanan, meskipun dengan mencicilnya.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kuliah di Australia bukan cuma hadir di kelas dan mengerjakan tugas dan penelitian, but, the best part of uni is not in the classes. Di luar kelas, kehidupan di Australia mendidik saya lewat “the university of life” sebagai bekal kembali ke Indonesia dan menjadi pribadi baru yang berbeda.

Zaman sekarang, meraih pendidikan tinggi amat penting untuk masa depan—apalagi buat orang yang bukan berasal dari keluarga mampu. Untuk meraih beasiswa, kita memang nggak perlu pintar secara akademis, yang penting gigih dan mau belajar dari kesalahan, serta cari terus inspirasi dan informasi. Itu sangat membantu kita agar terus termotivasi, bertahan di tengah persaingan dan “pantang menyerah”. Kesimpulan dari pengalaman hidup saya adalah, seseorang bisa gagal berkali-kali, tapi masih bisa sukses besar. Bagaimana pun juga, kisah ini mungkin saja bisa dijadikan pelajaran buat para pemburu beasiswa berikutnya. Semangat!!

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan ke Australia Lewat Jalur Beasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s