“Disandera” Bencong di Malioboro

Banyak hal yang bisa dilakukan tanpa uang untuk bersenang-senang, bahkan nongkrong di Malioboro dengan modal koin pun bisa disebut “plesiran”.

“Eit, simpan uang recehnya, sayang! Di Malioboro, itu berguna banget, apalagi kalau kita makan di emperannya. Banyak pengamen datang dalam hitungan menit. Kalau beruntung, bisa dapat pengamen yang lagu-lagunya cocok dengan yang kita suka. Kalau lagunya enak, ya, kita sih ihklas aja. Kalau nggak enak, ya, buruan kasih deh biar mereka cepat pergi. Soalnya, satu pergi, yang lain nyusul datang lagi. Duit recehnya juga bisa bayar parkir dan karcis tempat wisata yang murah meriah.” Kata saya mengingatkan Filda. Sejak di Jogja, membawa uang receh sudah menjadi dari ritual perjalanan kami.

Lucunya, pas lagi menikmati jajanan di pinggiran Malioboro, kami dijahili sama pengamen bencong seksi dengan dandannya yang menor.

“Ahh.. lagi makan berdua, serasa dunia milik berdua. Masnya, foto dulu dong..” Dia menarik lengan dan menggandeng saya secara paksa dan penuh kemesraan, lalu menyuruh Filda memotret kami berdua.

“Fotoin kita berdua dong, mbak.”

Wkwkwkwk.. gokil banget nih bencong. Filda pun cekikikan melihat saya, merelakan suaminya jatuh ke dalam pelukan si bencong. Nggak berkutik. Tak berdaya.

“Sayang, buruan kasih duitnya, biar dia cepat pergi.” Ops. Sepertinya saya telat mengingatkan. *sedang dalam dekapan bencong*

IMG_4330

Wahai pembaca: Manakah yang anda lihat? Wajah, dada, atau pahanya???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s