Berguru di Perth Writer Festival

Inilah salah satu event di Perth yang saya tunggu-tunggu. Festival ini juga merupakan bagian dari Perth International Arts Festival 2015. Acaranya diselenggarakan di kampusnya University of Western Australia (UWA) selama tiga hari (20-22 February 2015).

Perth Writer Festival (PWF) adalah ajang diskusi dan promosi buku antara para penulis dan “pendengar” yang tahun ini bertemakan HAM, kemanusiaan, kreatifitas, sejarah, geografi dan masyarakat. Para penulis yang diundang mulai dari aktivis, storyteller, novelis, dari yang puitis hingga pragmatis, semuanya berbaur disini. Acara bincang-bincang santai diadakan baik di ruang kelas, tenda terbuka termasuk di bawah pohon, banyak food truck di sekitar lokasi, spot untuk piknik, ada juga book shop dan acara penandatanganan buku oleh para penulis.

WP_20150221_001

Sesi 1: Dislocated

Sebagai penulis yang bukunya nggak selesai bertahun-tahun, saya perlu datang untuk mencari inspirasi. Mendengarkan cerita tentang karya mereka, mempelajari bagaimana mereka mendapatkan inspirasi untuk menulis—hal-hal itu membuat saya termotivasi untuk berjuang menyelesaikan buku pertama.

Selama tiga hari tersebut, festival ini memiliki acara yang sangat padat dari sesi ke sesi di beberapa venue yang tersebar di UWA. Nah, sebagian sesi adalah acara berbayar dan sebagiannya lagi gratis untuk dikunjungi. Jadi, karena saya suka yang gratisan, saya pilih-pilih sesi mana yang mau diikuti, tentunya yang temanya sesuai dengan “cerita perjalanan”—konsep buku yang sedang saya tulis. Akhirnya, cuma tiga sesi di hari sabtu yang saya ikuti: Dislocated, Writer’s Voice dan These Beautiful Places. Masing-masing sesi berdurasi sekitar satu jam dan terdiri dari beberapa penulis. Kebetulan sekali, ketiga sesi tersebut berturut-turut di venue “Tropical Grove” yang merupakan taman tropis di halamannya kampus UWA. Di antara pepohononanya yang tinggi dan rindang, kursi-kursi disediakan terbatas (kalau telat datang terpaksa berdiri). Para penulis dan pembawa acaranya duduk berjejer dibawah tenda dan panggung kecil. Simpel sekali, tapi suasananya tetap akrab.

Sesi Dislocated bercerita tentang “kehidupan sebagai imigran” dari sudut pandang dua penulis. Rayya Elias, berusia tujuh tahun ketika dia pindah dari Aleppo, Syria, ke Detroit, USA–sama sekali nggak bisa bahasa inggris dan benci banget dengan Hallowen Day. Meskipun cita-citanya jadi rock and roll nggak kesampaian, dia sangat mencintai art dan musik hingga menekuni karier sebagai hairdryer fashion dan musisi. Dia kemudian pindah ke New York dan kariernya berkembang bahkan pernah kerjasama bikin project bareng drummer-nya Kid Rock. Sekarang, dia punya sebuah apartemen di kota tersebut. Dia mengaku mencintai pekerjaannya karena passion untuk sesuatu yang disukainya, walaupun dalam kehidupan pribadinya, dia adalah lesbian, nggak menikah dan nggak mau punya anak, toh, dia merasa puas dan menikmati hidupnya saat ini.

Sami Shah, di sisi lain, pindah ke Australia karena alasan keamanan di Pakistan. Pekerjaannya adalah seorang komedian. Meskipun demikian, putrinya sendiri merasa dia nggak lucu-lucu banget untuk seorang komedian. Dia sangat terinspirasi dengan acara The Fringe World Festival (yang juga diadakan di Perth baru-baru ini) yang berisi komedi dan kabaret show. Dia lantas berpikir bagaimana mereka orang-orang di festival itu bisa membuat komedi yang enak ditonton. Sami ini bahasa inggris-nya ceplas ceplos dan pandai membuat komedi situasi dari pengalaman dan kisah sehari-harinya. Para penonton pun terpingkal-pingkal dibuatnya. Kecerdasannya terletak dari cara dia menjembatani humor-humor ala Pakistan dan kehidupan orang barat dengan perspektif yang universal.

Dalam Writer’s Voice di sesi kedua, para penonton diajak untuk mendengarkan para penulis membacakan petikan dari masing-masing novelnya, jadi semacam storytelling gitu deh. Tom Rachman membacakan petikan novelnya yang setting-nya di Perth tahun 1954. Cerita tentang seorang anak yang sedang mengidap penyakit polio dari keluarga Yahudi yang baru aja pindah ke Australia. Saat cerita dibacakan, semua orang khidmat mendengarkan. Suasana langsung senyap. Begitu selesai dibacakan, semua orang bertepuk tangan. Saya sungguh salut dengan apresiasi para audiens. Favel Parrett, penulis satunya lagi, bercerita tentang Antartika, novel yang ditulisnya berdasarkan perjalanannya ke daerah kutub itu.

Bagi saya, Joan London adalah aktor hari itu. Ceritanya ber-setting di Brooklyn tahun 1999. Saya sebenarnya nggak mengerti benar jalan ceritanya, tapi yang unik adalah caranya membawakan cerita tersebut dengan bahasa inggris akses Rusia yang r-nya lucu (karena salah satu tokoh adalah orang Rusia). Joan London benar-benar keren, sebagai penulis maupun pengisi suara. Bakatnya menirukan suara ala orang Rusia itu diturunkan dari ayahnya yang suka ngomong dengan gaya itu. Di akhir sesi, Joan London membuka rahasia bagaimana proses menulis cerita, membaca karya penulis favorit, lalu mendapatkan inspirasi. “It’s combination of features.” Katanya. “Penulis harus akurat terhadap lokasi (setting). Bagaimana bentuk, baunya, histori..” Dia menambahkan.”Writers are doing research on their on way.. dengan caranya masing-masing, untuk mendapatkan inspirasi ceritanya.” Joan.. kamu super-r-r-r sekali!

Dari ketiganya, baru di sesi terakhir, These Beautiful Places inilah saya bisa duduk paling depan setelah jeda setengah jam. Buru-buru cari posisi wuenak di barisan depan. Inti dari sesi ini adalah, place can be such as important touchstone for a writer. Imagination can be captured by vitising some places. Begitu mulai, Donna Ward selaku pembaca acara langsung bilang, “Our identity is connected where we live but also where we imagine. It’s about sense belonging of places.” So inspired… 

Rohan Wilson selaku penulis pertama juga membacakan petikan bukunya yang mengambil lokasi di Tasmania, di sebuah kota pelabuhan dekat sungai. Penonton dibawanya kembali ke masa lalu ketika pertama kali proyek pembangunan rel kereta api di Tasmania dikerjakan. Saat itu digambarkan kota sedang dalam keadaan kacau, nggak bisa dikontrol oleh pemerintah dan kota pun dilanda kebakaran hebat, lalu sang developer proyek pun akhirnya bangkrut. Rohan Wilson yang beristri orang Jepang ini pun mengaku kalau dirinya nggak begitu mengerti dengan budaya Jepang, seperti misalnya berdoa dan berbicara kepada foto para leluhur yang dilakukan oleh mertuanya. Tapi, baginya Jepang adalah rumah kedua meskipun tempat dan budayanya berbeda dari Australia.

Caiting Maling juga mencuri perhatian penonton. Dia adalah penulis puisi-puisi yang terinspirasi dari berbagai tempat seperti Western Australia, Cambridge dan Melbourne. Inspirasinya datang dari kejadian-kejadian yang nggak menyenangkan waktu kecil saat family trip. Baginya, tempat-tempat yang membuat stres jadi inspirasi buat menulis. Dari Caiting Maling, saya juga baru tahu kalau di Australia cara baca puisinya datar-datar aja, beda kalau di Indonesia, cara baca puisinya emosional dan iramanya mendayu-dayu.

Selanjutnya adalah Annamaria Weldon, juga penulis puisi, tapi jadi penulis yang paling banyak menarik minat penonton untuk bertanya karena kedewasaan dan kedalaman materi tulisannya. Puisi-puisinya berkisah tentang history of place, tentang kultur, tentang tempat-tempat yang dikunjunginya, berdasarkan eksplorasinya di Yalgorup National Park, Murray River, Pinjarra Lakes (Pinjarra adalah salah satu kota tertua di Western Australia) dan Noongar people (suku Aborigin di Western Australia). Dalam petualangannya, orang Noongar membawanya ke tempat-tempat spiritual mereka, memperlihatkan kepadanya bagaimana cara komunikasi mereka dengan alam dan kemudian mengajak Annamaria untuk berbicara dengan pohon-pohon, dengan burung, dengan sungai.. to make connection and ask for permission, katanya. “When I am writing about place, I am writing about present, but also past, culture, weather, geology, people.. it’s called—Memory of Earth.” Tutupnya.

WP_20150221_009

Dari kiri ke kanan: Annamaria Weldon, Rohan Wilson, Caiting Maling dan Donna Ward

Thanks God for this chance!

Pengetahuan yang saya dapat dari para penulis ini penting banget buat panduan untuk menulis cerita perjalanan, terutama dari aspek multikulturalnya. Pengalaman mereka sangat membantu saya berani berimprovisasi untuk kedepannya. Yah, soal gaya menulis, seiring waktu juga bakal ketemu sendiri. Tapi, yang namanya Inspirasi dan motivasi menulis memang harus sering di-update layaknya Norton Antivirus supaya nggak ketinggalan jaman. Anyway, pada akhirnya cuma konsistensi dan kegigihan yang membuat seseorang benar-benar jadi penulis yang bukunya diterbitkan.

Semangat 45!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s