0

Perjalanan Spiritual di Monkey Forest

 

att_1440782566025_img20150417120517_1024

Monyet dan mitologinya adalah salah satu elemen penting dalam tradisi seni di Bali. Dalam pertunjukan tari seperti Kecak Api, terdapat penari berpakaian monyet yang merupakan tokoh penting dalam tarian tersebut, mengukuhkan kedudukan dan statusnya yang tinggi dalam kepercayaan setempat. Di Ubud, keberadaan monyet dilestarikan secara khusus di Monkey Forest. Continue reading

0

Resort Mewah—Mepet Sawah

 

img_4626_1024

Sebelum memutuskan jalan-jalan ke Ubud, kami browsing terlebih dahulu untuk memilih penginapan yang paling menarik. Kriteria penginapan yang kami pilih tersebut, hmm, harus ada kolam renang pribadinya, pemandangan ke arah persawahan khas Ubud, hmm.. dan soal harga disesuaikan budget. Akhirnya, pilihan kami jatuh hati kepada Sapulidi Resort Spa and Gallery, dengan tipe kamar “Bale-Bale Suite”.

Secara aksesibilitas, Sapulidi Resort Spa and Gallery juga nggak jauh dari beberapa museum seperti Gajah Mas Gallery, Arma Museum, Museum Kesenian Agung Rai dan Rudana Museum. Nama resort ini semakin naik daun tatkala kedatangan Miss Universe 2012, Olivia Culpo dari Amerika Serikat, dalam acara soft opening Sapulidi Resort Ubud. Continue reading

0

Jalan-Jalan Ala Eat, Pray, Love di Ubud

#latepost

att_1440782355656_img20150416154049_1024

“Menikmati waktu berdua, tapi nggak kecapean karena kebanyakan jalan-jalan.” Kata Filda mengingatkan kami, dengan sedikit nada protes, teringat petualangan kami di Jogja yang melelahkan secara fisik. Of course, it is about quality time–not quantity of place.

Filda benar.

Setelah 12 hari bulan madu yang seru di Solo-Jogja, 3 hari di Ubud adalah bulan madu kami yang kedua. Mengapa Ubud? Di internet, orang bilang kalau mau bulan madu di Bali, ya, enaknya ke Ubud. Entahlah, mungkin juga petualangan Julia Roberts di Ubud (novel dan film Eat, Pray, Love) yang membuat kami terhipnotis untuk bulan madu disini.

“Ubud itu beda jauh sama Kuta. Kalau Kuta itu tempatnya party, kalau buat couple tempatnya memang di Ubud.” Kata Wayan, supir hotel yang menjemput kami di Bandara Ngurah Rai.

Dalam perjalanan menuju Ubud, kami dan Filda sudah terbayang-bayang dengan suasana khas Ubud yang dikelilingi persawahan dan dataran tinggi—seperti yang sering kami lihat di internet tempo hari. Kami tiba di Ubud saat petang dan langsung disambut dengan suasana hening dan lengang. Wayan benar, Ubud adalah tempat yang perfect buat The Couple Trip.  Continue reading

0

We Are The Champion

THE COUPLE TRIP JUARA 2 COOKING MANIA MAXIM DI PONTIANAK*

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 71, Maxim selaku produsen teflon anti-lengket ternama di Indonesia mengadakan kegiatan lomba masak “Cooking Mania 1000 Ibu Hebat Maxim”, yang bertempat di depan Taman Alun-alun Kapuas Pontianak, hari minggu tanggal 28 Agustus 2016. Ada beberapa kategori yang dilombakan yaitu Cooking Rally (150 tim), Cooking Couple (150 tim) dan lomba masak antar chef. Meskipun judulnya untuk emak-emak, ternyata banyak juga lho cewek-cewek abg, cowok-cowok, bapak-bapak dan pasangan suami istri yang unjuk kebolehan memasak dalam ajang ini.

IMG-20160829-WA0006

Kategori Cooking Rally adalah lomba masak secara estafet dalam waktu 30 menit, dimana setiap tim terdiri atas 5 orang. Masing-masing orang diberikan waktu selama 6 menit sesuai dengan tugasnya dalam memasak menu rahasia yang tersimpan dalam mistery box. Seru, gemes dan bikin gregetan.. Cooking Rally benar-benar menuntut kekompakan dan pemahaman sesama anggota tim karena jika satu orang salah atau lambat dalam menangani bahan makanan yang diolah, orang selanjutnya bisa kelabakan dan kehabisan waktu untuk hal-hal yang lain.

Kategori kedua adalah Cooking Couple. Nah, di kategori ini lah saya dan Filda sepakat untuk ikut berpartisipasi dalam lomba masak ini. Biar terlihat kompak, pada malam sebelum pertandingan kami ke Ramayana membeli baju kaos couple. Pokoknya yang penting having fun aja deh! Kategori ini menantang peserta couple untuk menirukan resep dari bahan makanan rahasia yang tersimpan dalam mistery box. Dan setelah box dibuka.. tantangannya adalah memasak Sosis Asam Manis.

IMG-20160829-WA0020

Begitu lomba dimulai, kami langsung berbagi tugas. Filda mengolah bumbu dan memasak, saya bertugas memotong bahan-bahan dan menyiapkannya untuk garnish. Filda sempat mengomel gara-gara saya iseng memakan timun–padahal timun itu untuk bahan garnish, wkwkwk. Dia langsung down dan cemberut, padahal lagi semangat-semangatnya. Saat makanan siap dihidangkan dan waktu 30 menit telah habis, sungguh, nggak ada perasaan bakalan juara sama sekali. Semua rencana Fida menampilkan garnish terbaik terlihat Gagal Total gara-gara insiden timun dan teammates-nya yang konyol, hihi.

IMG-20160829-WA0008

Sementara juri sedang memberikan penilaian dalam hal citarasa, tampilan dan kebersihan; kategori lomba masak antar chef dan demo masak dari chef tamu sedang berlangsung untuk memeriahkan acara. Selain lomba memasak, ada juga senam Zumba, bagi-bagi doorpirze bahkan lelang peralatan masak bekas lomba yang diserbu para pengunjung. Wuih, rame banget!

Saat pengumuman pemenang dari setiap kategori, kami sedang duduk manyun di tenda perlombaan, berharap cepat pulang, nggak berani berharap untuk menang, tapi ingin dengar siapa pemenangnya. Saat kategori Cooking Couple diumumkan, “Juara 3, nomor.. ” Wah, tinggal 2 lagi nih pemenangnya..

“Juara 2, nomor 13.” Hah? Nomor 13? Beneran nih juara? Saya masih loading, Filda juga masih loading, belum yakin 100 persen. Nggak salah dengar nih? “Nomor 13 mana?” Sekali lagi MC memanggil. Wah, beneran nih nomor 13. Sementara saya salah tingkah, Filda terlihat sumringah. Kami berjalan menuju panggung, masih tidak percaya apa yang sedang terjadi. Kok bisa menang? Bagaimana bisa? Otak kami dipenuhi tanda tanya, masih diselumuti rasa penasaran.. But hey, kami juara 2 nih.. mengalahkan 148 tim.. Sebagai juara 2, kami menerima hadiah lomba berupa 2 set teflon anti-lengket dari Maxim–lumayan, nggak perlu beli untuk peralatan dapur lagi.

IMG-20160829-WA0022

Mau tahu siapa juara 1-nya? Tak lain dan tak bukan adalah peserta nomor 12, mama dan tante-nya Filda. Ini bukan nepotisme lho, kami juga nggak contekan, ada juri profesional yang menilai.. Seru dan bangga banget, 2 gelar juara diborong satu keluarga, hihi.. Next time, kami jadi lebih pede buat mengikuti lomba-lomba masak berikutnya. Siapa tahu bisa juara lagi, hehe..

IMG-20160829-WA0004

 

*No adv, just for fun.

0

Penuh Pengorbanan di Pantai Ngobaran

IMG20150108114556

“Kita akan ke pantai yang huruf depannya NG.” Gunung Kidul punya belasan pantai cantik untuk dikunjungi. Mengingat keterbatasan waktu dan padatnya agenda perjalanan, kami hanya memilih beberapa di antaranya. “Kalau lihat foto-foto di internet sih, pantainya bagus, masih sepi—jarang dikunjungi turis. Biar kayak pantai pribadi.” Seloroh saya supaya Filda tertarik.

“Apa namanya, pi?” Ehm, ada yang kepo nih.

“Ngerenehan, Nguyahan dan Ngobaran. Menurut informasi di internet, letaknya berdekatan kok.” Jawab saya sok tahu. Sejak traveling bareng Filda, saya jadi punya kebiasaan browsing dulu sebelum bepergian, lalu menunjukkan foto-foto tentang tempat yang mau dituju kepada Filda supaya lebih meyakinkan—barulah saya memutuskan untuk berangkat atau nggak. Dari foto-foto tersebut, saya mendapatkan deskripsi singkat soal pantai-pantai NG-nya Gunung Kidul tersebut.

Pantai Ngerenehan adalah pantai kecil yang diapit dua bukit dengan air lautnya yang jernih. Terdapat perkampungan dan kapal-kapal nelayan yang bersandar di sekitarnya, termasuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan banyak warung yang berjualan seafood. Pantai Nguyahan sejak dulu dikenal sebagai tempat pembuatan garam sejak zaman Belanda, memiliki bibir pantai yang lebih lebar daripada Ngerenehan, tapi sama-sama memiliki air laut yang jernih dan bukit di sisinya. Pantai Ngobaran dari zaman baheula terkenal dengan cerita mistisnya dimana terdapat pura dan candi di tepi laut yang menjadi keunikannya. Banyak orang bilang pantai ini adalah Uluwatu-nya Jogja. Hmm, semuanya menarik untuk dikunjungi. Continue reading

0

Sensasi Baru Menjelajahi Goa Pindul

Kali pertama kesana, Goa Pindul masih sepi sekali–belum terkenal. Kedua kalinya, suasana cukup ramai. Kesempatan ketiga, Goa Pindul sudah seperti pasar—goanya cuma satu, yang mau masuk kesana sejuta umat. Keempat kalinya, kali ini bareng Filda, Goa Pindul lagi sepi banget. Dan entah kenapa, kami mendapat tiga pemandu sekaligus. Ahh, rezeki anak sholeh..

“Mungkin karena kita mengambil paket lengkap, ya… Goa Glatik, Goa Pindul, Kali Oyo sama nginap di homestay-nya.” Saya masih penasaran, menerka kenapa bisa tiga orang.

“Memang sebelumnya gimana?”

“Biasanya cuma satu atau dua pemandunya.” Jawab saya, berdasarkan pengalaman. “Itu pun rame-rame sama orang lain.” Nah lho, ada apa gerangan?? Continue reading

0

Candi Paling Romantis di Jogja?

#latepost

1

Dua hal yang membedakan sebuah candi dan candi lainnya adalah “unik” dan “menarik”. Unik, berarti bentuk arsitekturnya yang khas, lokasinya bagus serta view-nya keren. Sedangkan menarik, itu terkait dengan cara kita dalam menikmati candi tersebut. Dari keseluruhan candi yang ada di Jogja dan sekitarnya, saya dan Filda blusukan untuk mencari satu candi yang “paling romantis”.. dan akhirnya, we found it.

2

Continue reading